• Gedung NU

    Pembangunan Gedung NU Ranting Kalilangkap direalisasikan.

  • MUSRAN NU Kalilangkap 2018

    Musyawarah Ranting ( Musran ) Nahdlatul Ulama Desa Kalilangkap untuk kepengurusan ranting NU masa khidmat 2018-2023 telah laksanakan hari ini Rabu tanggal 27 syawal 1439 H / 11 Juli 2018 H. bertempat di Gedung Lantai 2 SMP Ma’arif NU 01 Bumiayu.

  • BINTEK KARTANU

    Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Brebes mengadakan Bintek dan melaunching Sistem Informasi Strategis Nahdlatu Ulama (Sisnu) sekaligus Kartu Anggota Nahdlatul Ulama (KARTANU) wilayah Brebes Selatan.

  • Kajian Rutin Malam Kamis

    Kegiatan kajian rutin kitab kuning, kitab Riyadusholihin pengurus ranting NU Kalilangkap

  • Slide5

    Maulid Nabi 2017

  • Slide6

    Pengurus Muslimat dan fatayat NU Kalilangkap

  • Slide 7

    Khitanan Massal ranting NU Kalilangkap 2017

  • Slide 8

    Pembangunan Gedung NU ranting NU Kalilangkap

  • Slide 9

    Maulid Nabi tahun 2019

  • Slide 10

    Peletakan batu pertama pembangunan gedung NU

  • Maulid Nabi Muhammad Saw dan Khitanan Massal 2015

    Pengajian Maulid nabi Muhammad SAW dan Khitanan Massal pada hari kamis 25 Desember 2015, oleh Ranting NU, Muslimat NU, Fatayat NUdan GP Ansor berlangsung di KAR Legok.

Assalamualaikum Wr.Wb.

SELAMAT ATAS MUSRAN NU KALILANGKAP MASA KHIDMAT 2023-2028.....MEDIA INFORMASI DAN DOKUMENTASI KEGIATAN RANTING NU DAN BADAN OTONOM RANTING KALILANGKAP

06 February 2016

Kegiatan Pengajian Maulid Nabi Muhammad Saw dan Khitanan Massal 2015

Pengajian Maulid nabi Muhammad SAW dan Khitanan Massal pada hari kamis 25 Desember 2015, oleh Ranting NU, Muslimat NU, Fatayat NUdan GP Ansor berlangsung di KAR Legok






































































Share:

29 November 2015

Hubbul Wathan ( KH Abd Wahab Hasbullah )

Syiir Cinta Tanah Air “Hubbul Wathon”
Oleh: KH. Abdul Wahab Chasbullah

Ya ahlal wathon ya ahlalwathon
Hubbul wathon minal iman
Wahai anak bangsa wahai anak bangsa
Cinta tanah air itu bagian dari iman

Hubbul wathon ya ahlal wathon
Wa la takun ahlal hirman
Cinta tanah air wahai anak bangsa
Dan janganlah kalian menjadi orang yang tertinggal

Innal kamala bil a'mali
Wa laisa dzalika bil aqwaali
Sesungguhnya kesempurnaan (Cinta tanah air) itu diringi perbuatan
tidak hanya sekadar ucapan

Fa'mal tanal ma fil amal 
Wa la takun mahdhol qawal
Berbuatlah, akan kau dapatkan semua angan-angan
Dan jangan hanya bisa berucap belaka

Dunyakumu ma lil maqorr 
Wa innama hiy lil mamarr
Duniamu hanyalah tempat untuk lewat
Bukan tempat untuk menetap

Fa'mal bimal maula amar
Wala takun baqorozzimar
Maka amalkan apapun perintah Tuhan
Dan jangan jadi sapi para peniup seruling

Lam ta'lamuu man dawwaruu
Lam ta'qilu maa ghoyyaru
Kamu tidak tahu siapa yang mengendalikan
Kamu juga tidak mengerti apa saja yang mereka ubah

Aiyna intihau ma sayyaru
Kaifa intihau ma shoyyaru
Tak tahu dimana perjalanan mereka akan terhenti
(Juga) Tak jelas bagaimana semuanya ini akan mereka akhiri

Am humu fihi saaqokum
Ilal madzabihi dzabhakum
Tak tahu, apakah mereka sedang menggiringmu
ke tempat jagal untuk menyembelihmu

Am i'taqoukum uqbaakum
Am yudiymuu a'baakum
Ataukah mereka membebaskan leher kalian
Atau malah melanggengkan beban kalian

Ya ahlal uqul assalimah
Wa alaal qulubi al a'zimah
Wahai yang memiliki akal waras
Wahai yang memiliki hati kokoh

Kuunu bi himmah a'liyah
Wa la takun kassaimah
Tetaplah kalian dengan spirit menggelora
Dan jangan menjadi laksana hewan piaraan


Diterjemah dan dibahasakan oleh:
Habib Abubakar Assegaf, Pasuruan.
Sumber naskah: 
- Museum NU Surabaya.
Share:

18 November 2015

Panitia Khitanan Massal NU Kalilangkap 2015

SUSUNAN PANITIA
PANITIA KHITANAN MASSAL NU DESA KALILANGKAP TAHUN 2015

Penasehat                         : Kyai  Abdul Wahab Asmu’i
Ketua I                             : Ustadz Rojikin
Ketua II                           : Ustadz H. Abdurrohim, S.Ag
Sekretaris I                       : Wiyono
Sekretaris II                     : Imam Gozali, ST
Bendahara I                     : Syakirin
Seksi-seksi:
1.    Pendanaan                   : H. Muizzudin
                                      Ustad Munawar
                                      Masykur
                                      Abdul Kholik
2.    Perlengkapan               : Misbahul Munir        
                                       Kasrip
                                      Asril Fua'adi
                                      Abdul Hamid
Share:

RAPAT PLENO (FOTO)

Rapat Pleno NU Ranting Desa Kalilangkap pada hari Selasa tanggal 17 November 2015 bertempat di pondok pesantren al-Habibatain Karangdempul Kalilangkap Kec. Bumiayu Kab. Brebes. membahas tiga agenda : 1) Pembentukan Panitia Khitanan Massal (yang diselnggarakan bekerjasama dengan PR Muslimat NU Kalilangkap dalam acara PHBI Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh di KAR Legok ); 2) Lanjutan Pembebasan Tanah  untuk Wakaf Warga NU; 3) Pembentukan Panitia Ziarah Wali Songo. Rapat mengundang semua pengurus NU dan KAR, Pengurus Muslimat, Fatayat, Yayasan, dan Banom lainnya. Pengasuh pondok pesantren al-Habibatain sekaligus Rais Syuriyah NU, Kyai M. Khaif Sya'roni memimpin acara tersebut.




Share:

15 August 2015

DETIK TERAKHIR KH WAHID HASYIM

Musibah di Cimindi
Tanggal 19 April 1953 merupakan hari berkabung. Waktu itu, hari Sabtu tanggal 18 April, KH. Abdul Wahid Hasyim bermaksud pergi ke Sumedang untuk menghadiri rapat NU. Berkendaraan mobil Chevrolet miliknya, Abdul Wahid Hasyim ditemani seorang sopir dari Harian Pemandangan, Argo Sutjipto, Tata Usaha Majalah Gema Muslimin, dan putra sulungnya, Abdurrahman Ad-Dakhil. Abdul Wahid Hasyim duduk di jol belakang bersama Argo Sutjipto.
Daerah di sekitar Cimahi dan Bandung waktu itu diguyur hujan dan jalan menjadi licin. Pada waktu itu lalu lintas di jalan Cimindi, sebuah daerah antara Cimahi-Bandung, cukup ramai. Sekitar jam 13.00, ketika memasuki Cimindi, mobil yang ditumpangi Abdul Wahid Hasyim selip dan sopirnya tidak bisa menguasai kendaraan. Di belakang Chevrolet naas itu banyak iring-iringan mobil. Sedangkan dari arah depan, sebuah truk yang melaju kencang terpaksa berhenti begitu melihat ada mobil zig-zag karena selip dari arah berlawanan. Karena mobil Chevrolet itu melaju cukup kencang, bagian belakangnya membentur badan truk dengan kerasnya. Ketika terjadi benturan itu KH Abdul Wahid Hasyim dan Argo Sutjipto terlempar ke bawah truk yang sudah berhenti itu. Keduanya luka parah. KH. Abdul Wahid Hasyim terluka bagian kening dan mata serta pipi dan bagian lehernya. Sedangkan sopir dan Abdurrahman tidak cedera sedikit pun. Mobilnya hanya rusak bagian belakang dan masih bisa berjalan seperti semula.
Lokasi terjadinya kecelakaan ini memang agak jauh dari kota. Karena itu usaha pertolongan datangnya sangat terlambat. Baru pada pukul 16.00 datang mobil ambulance untuk mengangkut korban ke Rumah Sakit Boromeus di Bandung.
Sejak mengalami kecelakaan, kedua korban terus tidak sadarkan diri. Pada pukul 10.30 hari Ahad, 19 April 1953, KH. Abdul Wahid Hasyim dipanggil ke hadirat Allah SWT dalam usia 39 tahun. Beberapa jam kemudian, tepatnya pukul 18.00, Argo Sutjipto menyusul menghadap Sang Khalik.
Musibah ini tentu aja sangat mengejutkan masyarakat. Jenazahnya diangkut ambulance ke Jakarta dan setelah disemayamkan sejenak, lalu diterbangkan ke Surabaya. Selajutnya dibawa ke Jombang untuk dimakamkan di Pesantren Tebuireng. Banyak yang menyesalkan kenapa kiai berusia muda dan merupakan tokoh nasional itu begitu cepat dipanggil menghadap Sang Khalik. Tetapi, itulah kehendak Tuhan.
Jika pada umumnya kematangan prestasi dan karier seseorang baru dimulai pada usia 40, KH. Wahid Hasyim justru telah merengkuhnya pada usia di bawah itu. Orang menilai kematian itu teramat cepat datangnya, secepat Wahid Hasyim meraih prestasi. Karena itu, melihat kepemimpinan dan prestasi yang diraih Wahid Hasyim dalam usia mudanya, sering muncul pengandaian dari masyarakat, “…seandainya KH. Wahid Hasyim dikaruniai usia yang lebih panjang, tidak mustahil…” Alfaatihah. (Habis) SUMBER: http://www.muktamarnu.com/sosok-dan-kiprah-kh-abdul-wahid-hasyim-7-habis.html
Share:

MBAH MAIMUN: MUKTAMAR JOMBANG SAH



Dalam pandangan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang, KH Maimun Zubair, muktamar yang diselenggarakan di Jombang sudah sah dan final. Kiai Maimun juga berharap tidak ada yang mempersoalkan hasil dari muktamar ke-33 NU tersebut.
“Muktamar ke-33 NU di Jombang kemarin secara hukum sah dan mengikat. Tidak perlu lagi ada yang mempertanyakan,” katanya di depan ribuan peserta Halal bi Halal Persatuan Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyyah Kaafah (P4SK), seperti tertulis dalam keterangannya, Ahad (9/8/2015).
Acara ini digelar di Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang dan dihadiri Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri KH Nurul Huda Djazuli (Gus Dah), Ketua PBNU Prof Dr KH Said Agil Siradj, Ketua Panitia KH Muh Yusuf Chudlori, dan seluruh pengasuh pondok pesantren yang tergabung dalam P4SK serta para pejabat.
Menurut Mbah Maimun selaku sesepuh Ahlul Halli Wal Aqdi atau AHWA, apa yang diputuskan dalam muktamar harus segera dijalankan. Pasalnya semua keputusannya merupakan produk hukum dan organisasi.
“Kita tunggu kerja Pak Said memimpin NU ke depan,” ujarnya.
Gus Dah juga menyampaikan hal senada. Menurunya, terpilihnya Rois Am KH Ma’ruf Amin dan Ketua Umum PBNU KH Said Agil Siradj adalah pasangan ideal untuk bisa membawa NU lebih bermanfaat bagi bangsa Indonesia.
“Sejak awal, apalagi saat AHWA yang dipimpin Beliau Mbah Maimun rapat, saya sudah berangan-angan dan bercita cita, semoga saja yang terpilih Kiai Ma’ruf Amin dan Kiai Said. Ternyata angan angan saya dikabulkan Allah. AHWA memilih kiai yang tepat untuk memimpin NU,” katanya. (Dtk/s@if)// SUMBER: http://www.muktamarnu.com/kiai-maimun-muktamar-di-jombang-sah-dan-mengikat.html.
Share:

20 December 2014

SYIIR NU --- HABIB SYECH

lirik Syair Nahdliyin (NU) - Habib Syech 
*Koor:
Sholatulloh salamulloh * 'ala thoha rosulillaah
Sholatulloh salamulloh * 'ala yaasiin habibillah
Tawasalna bibismillah * wabilhadi rosulillah
Wakulli muja hidillillah * bi ahlil badri ya alloh
Ilaahi sallimil 'ummah * minal afati wanniqmah
Wamin hammin wamin ummah * bi ahlil badri ya alloh
*Koor
Tahun 26 laire NU
Ijo-ijo benderane NU
Gambar jagad simbole NU
Bintang songo lambange NU
*Koor
Suriyah 'ulama'e NU
Tanfidziyah pelaksana NU
GP Anshor pemuda NU
Fatayat pemudi NU
*Koor
Nganggo usholli sholate NU
Adzan pindo jum'atane NU
Nganggo qunut subuhane NU
Dzikir bareng amalane NU
*Koor
Tahlilan hadiahe NU
Manaqiban washilahe NU
Wiridan rutinane NU
Maulidan sholawatane NU
*Koor
(kadang ditambahin syair ini juga)
Repote dadi pedagang
Sholate digawe gampang
Opo meneh dagangane laris
Durung sholat ngakune uwis
Repote dadi petani
Sholate terkadang lali
Opo meneh wayahe tandur
Sholate diundur-undur
Repote wong nggarap sawah
Sholate sawayah-wayah
Opo meneh wayahe panen
Sholate ora tau kopen
Repote dadi pejabat
Sholate terkadang telat
Opo meneh wayahe rapat
Sholate diloncat-loncat
*Koor 
SHOLAATULLOH SALAMULLOH 'ALAA THOHA ROSULILLAH
SHOLAATULLOH SALAMULLOH 'ALAA YAASIIN HABIBILLAH
Share:

BIOGRAFI HADRATUSYEIKH KH HASYIM ASY'ARI

 Kiai Haji Muhammad Hasyim Asy’ari lahir pada hari Selasa Kliwon, 24 Dzulqa’dah 1287 H, bertepatan dengan tanggal 14 Februari 1871 M di Desa Gedang, satu kilometer sebelah utara Kota Jombang, Jawa Timur. Ayahnya bernama Kiai Asy’ari berasal dari Demak, Jawa Tengah. Ibunya bernama Halimah, puteri Kiai Utsman, pendiri Pesantren Gedang.





Dilihat dari garis keturunan itu, beliau termasuk putera seorang pemimpin agama yang berkedudukan baik dan mulia. KHM. Hasyim Asy’ari merupakan keturunan kesepuluh dari Prabu Brawijaya VI (Lembupeteng). Garis keturunan ini bila ditelusuri lewat ibundanya sebagai berikut: Muhammad Hasyim bin Halimah binti Layyinah binti Sihah bin Abdul Jabar bin Ahmad bin Pangeran Sambu bin Pangeran Nawa bin Joko Tingkir alias Mas Karebet bin Prabu Brawijaya VI.

Semenjak masih anak-anak, Muhammad Hasyim dikenal cerdas dan rajin belajar. Mula-mula beliau belajar agama dibawah bimbingan ayahnya sendiri. Otaknya yang cerdas menyebabkan ia lebih mudah menguasai ilmu-ilmu pengetahuan agama, misalnya: Ilmu Tauhid, Fiqih, Tafsir, Hadits dan Bahasa Arab. Karena kecerdasannya itu, sehingga pada umur 13 tahun ia sudah diberi izin oleh ayahnya untuk mengajar para santri yang usianya jauh lebih tua dari dirinya.

Kemauan yang keras untuk mendalami ilmu agama, menjadikan diri Muhammad Hasyim sebagai musyafir pencari ilmu. Selama bertahun-tahun berkelana dari pondok satu ke pondok yang lain, bahkan beliau bermukim di Makkah selama bertahun-tahun dan berguru kepada ulama-ulama Makkah yang termasyhur pada saat itu, seperti: Syekh Muhammad Khatib Minangkabau, Syekh Nawawi Banten dan Syekh Mahfudz At Tarmisi. Muhammad Hasyim adalah murid kesayangan Syekh Mahfudz, sehingga beliau juga dikenal sebagai ahli hadits dan memperoleh ijazah sebagai pengajar Shahih Bukhari.

Pada tanggal 16 Rajab 1344 H bertepatan dengan tanggal 31 Januari 1926, KHM. Hasyim Asy’ari bersama KH. Abdul Wahab Hasbullah serta para ulama yang lain mendirikan Jam’iyah Nahdlatul Ulama, salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia.

KHM. Hasyim Asy’ari adalah seorang ulama yang luar biasa. Hampir seluruh kiai di Jawa mempersembahkan gelar “Hadratus Syekh” yang artinya “Maha Guru” kepadanya, karena beliau adalah seorang ulama yang secara gigih dan tegas mempertahankan ajaran-ajaran madzhab. Dalam hal madzhab, beliau memandang sebagai masalah yang prinsip, guna memahami maksud sebenarnya dari Al Quran dan Hadits. Sebab tanpa mempelajari pendapat ulama-ulama besar khususnya Imam Empat: Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hanbali, maka hanya akan menghasilkan pemutar balikan pengertian dari ajaran Islam itu sendiri. Penegasan ini disampaikan beliau dihadapan para ulama peserta Muktamar NU III, September 1932 dan penegasan itu kemudian dikenal sebagai “Muqaddimah Qonun Asasi Nahdlatul Ulama”.

Dalam rangka mengabdikan diri untuk kepentingan umat, maka KHM. Hasyim Asy’ari mendirikan pesantren Tebuireng, Jombang pada tahun 1899 M. Dengan segala kemampuannya, Tebuireng kemudian berkembang menjadi “pabrik” pencetak kiai. Sehingga pemerintah Jepang perlu mendata jumlah kiai di Jawa yang “dibikin” di Tebuireng. Pada tahun 1942 Sambu Bappang (Gestapo Jepang) berhasil menyusun data tentang jumlah kiai di Jawa mencapai dua puluh lima ribu kiai. Kesemuanya itu merupakan alumnus Tebuireng.

Dari sini dapat dilihat betapa besar pengaruh Tebuireng dalam pengembangan dan penyebaran Islam di Jawa pada awal abad XX. Ribuan kiai di Jawa hampir seluruhnya hasil didikan Tebuireng. Karena itu tidaklah heran bila kemudian juga tumbuh ribuan pesantren dipimpin para kiai yang gigih mempertahankan madzhab, yang akhirnya berada dalam satu barisan “Nahdlatul Ulama”, semua itu dapat dipahami sebagai hasil pengabdian Hadratus Syekh Kiai Haji Muhammad Hasyim Asy’ari dalam perjalanan yang cukup panjang.

Pengabdian Kiai Hasyim bukan saja terbatas pada dunia pesantren, melainkan juga pada bangsa dan negara. Sumbangan beliau dalam membangkitkan semangat nasionalisme dan patriotisme pada saat jiwa bangsa sedang terbelenggu penjajah, tidaklah bisa diukur dengan angka dan harta. Memang cukup sulit mengelompokkan mana yang pengabdian terhadap agama, dan yang mana pula pengabdian beliau terhadap bangsa dan negara. Sebab ternyata kedua unsur itu saling memadu dalam diri Kiai Hasyim. Di satu pihak beliau sebagai pencetak ribuan ulama atau kiai di seluruh Jawa, di lain pihak belaiu seringkali ditemui tokoh-tokoh pejuang nasional seperti Bung Tomo maupun Jenderal Soedirman guna mendapatkan saran dan bimbingan dalam rangka perjuangan mengusir penjajah.

Karena sikap dan sifat kepahlawanan serta keulamaannya, maka tidak henti-hentinya pemerintah kolonial berusaha membujuknya. Pada tahun 1937 misalnya, pernah datang kepada beliau seorang amtenar utusan Hindia Belanda bermaksud memberikan tanda jasa berupa “bintang” terbuat dari perak dan emas. Tetapi Kiai Hasyim menolak, dan kemudian beliau bergegas mengumpulkan para santrinya dan berkata :

“Sepanjang keterangan yang disampaikan oleh ahli riwayat; pada suatu ketika dipanggillah Nabi Muhammad SAW oleh pamannya, Abu Thalib, dan diberitahu bahwasannya pemerintah jahiliyah di Makkah telah mengambil keputusan menawarkan tiga hal untuk Nabi Muhammad SAW: kedudukan yang tinggi, harta benda yang berlimpah dan gadis yang cantik. Akan tetapi, Baginda Muhammad SAW menolak ketiga-tiganya itu, dan berkata di hadapan pamannya, Abu Thalib: ‘Demi Allah, umpama mereka itu kuasa meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, dengan maksud agar aku berhenti berjuang, aku tidak akan mau. Dan aku akan berjuang terus sampai cahaya Islam merata di mana-mana, atau aku gugur lebur menjadi korban’. Maka kamu sekalian anakku, hendaknya dapat mencontoh Baginda Muhammad SAW dalam menghadapi segala persoalan….”.

Sikap seperti itu terulang pada saat Jepang berkuasa. Kedatangan Jepang disertai kebudayaan ‘Saikerei’ yaitu mnghormati Kaisar Jepang “Tenno Heika” dengan cara membungkukkan badan 90 derajat menghadap ke arah Tokyo, yang harus dilakukan oleh seluruh penduduk dengan cara berbaris setiap pagi sekitar jam 07.00 WIB tanpa kecuali baik itu anak sekolah, pegawai pemerintah, kaum pekerja dan buruh, bahkan di pesantren-pesantren. KHM. Asy’ari menentangnya.

Melakukan ‘saikerei’ menurut pandangan para ulama adalah ‘haram’ dan dosa besar. Membungkukkan badan semacam itu menyerupai ‘ruku’ dalam sholat, yang hanya diperuntukkan menyembah Allah SWT. Selain Allah, sekalipun terhadap Kaisar Tenno Heika yang katanya keturunan Dewa Amaterasu, Dewa Langit, haramlah diberi hormat dalam bentuk ‘sakerei’ yang menyerupai ruku itu.

Akibat penolakkanya itu, pada akhir April 1942, KHM. Hasyim Asy’ari ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara di Jombang. Kemudian dipindah ke Mojokerto, dan akhirnya ditawan bersama-sama serdadu Sekutu di dalam penjara Bubutan, Surabaya.

Selama dalam tawanan Jepang, Kiai Hasyim disiksa habis-habisan hingga jari-jemari kedua tangannya remuk dan tak lagi bisa digerakkan. Namun berkat pertolongan Allah, kekejaman dan kebiadaban tentara Jepang itupun luluh karena serbuan damai ribuan santri dan unjuk rasa para kiai alumni Tebuireng. Beberapa kiai dan santri meminta dipenjarakan bersama-sama Kiai Hasyim sebagai tanda setia kawan dan pengabdian kepada guru dan pemimpin mereka yang saat itu telah berusia 70 tahun. Peristiwa itu cukup membakar dunia pesantren dalam memulai gerakan bawah tanah menentang dan menghancurkan Jepang. Pihak pemerintah Jepang agaknya mulai takut, hingga kemudian pada 6 Sya’ban 1361 H bertepatan dengan tanggal 18 Agustus 1942, Kiai Hasyim dibebaskan.

Pada bulan Oktober 1943, ketika NU dan Muhammadiyah bersepakat membentuk organisasi gabungan menggantikan MIAI (Al Majlisul Islamil A’la Indonesia) dan diberi nama MASYUMI (Majlis Syuro Muslimin Indonesia) yang non politik, pimpinan tertingginya dipercayakan kepada KHM. Hasyim Asy’ari. Dan pada tahun 1944 beliau diangkat oleh pemerintah Jepang menjadi Ketua SHUMUBU (Kantor Pusat Urusan Agama).

Pada masa-masa akhir pemerintahan Jepang di Indonesia, Masyumi berhasil membujuk Jepang untuk melatih pemuda-pemuda Islam khususnya para santri dengan latihan kemiliteran yang kemudian diberi nama Hizbullah. Tanda anggota Hizbullah ditandatangani oleh KHM. Hasyim Asy’ari.

Pada tanggal 7 Ramadlan 1366 bertepatan dengan tanggal 25 Juli 1947, KHM. Hasyim Asy’ari berpulang ke Rahmayullah. Atas jasa beliau, pemerintah Indonesia menganugerahi gelar “Pahlawan Nasional”.


Sumber: Pendidikan Aswaja & Ke-NU-an untuk SMP/MTs. PW LP Ma’arif Jawa Timur.
Share:

SEPENGGAL KISAH KH SUBHAN ZE

Sosok Subchan dikenal sebagai politisi cum intelektual Nahdlatul Ulama yang berani melawan kekuasaan. Namanya melejit setelah tragedi 1965.
unjungan Subchan Zaenuri Echsan ke Yogyakarta itu meninggalkan kesan spesial bagi anak-anak muda Nahdlatul Ulama (NU). Terjadi sekitar 1965, tokoh NU itu memaparkan pandangannya tentang konsep ekonomi baru di depan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Yogyakarta. “Dia membawa konsep ekonomi alternatif. Waktu itu belum ada orang NU yang bisa berbicara ekonomi sefasih Subchan,” ujar Profesor Umar Basalim, mantan Rektor Universitas Nasional, yang kala itu termasuk salah satu anak muda NU tersebut, kepada Prioritas, Senin dua pekan lalu.
Kepakaran Subchan dalam pemikiran ekonomi, kata Umar, karena disokong bahan bacaan yang banyak. Dia juga rutin berlangganan Time, Newsweek, The Economist, serta jurnal-jurnal ekonomi dari Eropa Timur.
Ketika di awal Orde Baru, sekitar 1966, Subchan sempat membuat kelabakan dua ekonom lulusan Berkeley, Widjojo Nitisastro dan Ali Wardhana, dalam sebuah diskusi di Kampus Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta. Subchan mengemukakan pemikiran ekonomi alternatif. Lantaran takjub, Mar’ie Muhammad, bekas Menteri Keuangan yang kala itu bertindak sebagai panitia penyelengara, menyandangkan gelar “Zarjana Ekonomi” untuk kepanjangan nama belakang Subchan ZE.
Selain piawai dalam berbagai diskusi, Subchan dikenal sebagai sosok pembangkang yang berani. Saat menjabat Senior Vice President dari Afro Asia Economic Coorporation (AFRASEC), 1960-1962, misalnya. Subchan pernah menggemparkan publik dengan mengeluarkan delegasi Rusia dari persidangan di Kairo. Pulang dari Kairo, Subchan ditahan.
Dikabarkan pula, suatu ketika Subchan pernah bertemu Bung Karno. Proklamator itu bertanya tentang aktivitasnya ikut demontrasi. “Tidak, tidak saya tidak ikut demonstrasi tapi saya yang memimpin demonstrasi,” ujar Subchan ketika itu, seperti terungkap dalam buku Subchan ZE : Sang Maestro Politisi Intelektual dari Kalangan NU Modern (Pustaka Indonesia Satu, 2001), yang disunting Arief Mudatsir Mandan.
Subchan dibesarkan di tengah keluarga santri kaya di Kudus. Di usia 14 tahun, Subchan sudah diserahi tugas memimpin pabrik rokok cap “Kucing” di Kudus milik ayah angkatnya H. Zaenuri Echsan, seorang pengusaha rokok kretek. Setelah berhasil di sana, ia pindah ke Jakarta. Di Ibu Kota, Subchan sukses mengendalikan jejaring bisnis 28 perusahaannya. Bahkan, dia dikabarkan memiliki pesawat pribadi, yang jarang dimiliki konglomerat di zaman itu.
Tokoh pemuda NU Subchan memegang senjata di ruang kerjanya, 1966.
Sedari muda, Subchan telah berperan dalam lingkungan sosial sehingga menjadi tokoh nasional yang disegani. Pada masa revolusi fisik, pria kelahiran Malang, Jawa Timur, 29 Januari 1929 ini, sudah tergabung dalam Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) di bawah pimpinan Bung Tomo. Anak keempat dari 13 bersaudara ini, mulai bergabung ke NU pada 1950-an di lembaga pendidikan NU, Ma’arif, di Semarang, Jawa Tengah. Putra pasangan H. Rochlan Ismail dan Hj. Siti Masnichah itu, kemudian menjadi kepala sekolah menengah Islam di Semarang.
Meski menekuni dunia pendidikan, Subchan tak punya gelar sarjana. Dia hanya sempat belajar sebentar di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Itu pun, hanya sebagai mahasiswa pendengar. Namun, menurut Umar, sekretaris politik Subchan pada 1967-1973, Subchan merupakan pembelajar otodidak. Dia juga menguasai bahasa asing, khususnya bahasa Belanda dan Inggris. Karena kemampuan bahasa itu, kata Umar, Subchan sempat memperoleh leadership grant selama setahun (1961-1962) untuk mengikuti Course Program Economic Development di University of California Los Angeles (UCLA), dari Pemerintah Amerika Serikat.
Nama Subchan melejit sebagai tokoh nasional ketika Gerakan 30 September meletus pada 1965. “Tokoh sipil terdepan pak Subchan. Boleh dibilang pada 1965 itu mirip seperti Gus Dur atau Amien Rais ketika memimpin gerakan Reformasi 1998,” kata tokoh Nahdlatul Ulama KH Salahuddin Wahid kepada Prioritas. Setelah kegagalan kup itu, Subchan mempelopori pembentukan Ketua Aksi Pengganyangan Gestapu/ Partai Komunis Indonesia (PKI). Aksi itu merupakan gabungan dari tujuh partai politik, tiga organisasi massa dan 130 organisasi lainnya.
Ketika masa transisi ke Orde Baru itu, menurut Gus Solah, panggilan akrab Salahuddin Wahid, anak-anak muda aktivis menjadikan Subchan sebagai tokoh idolanya. Rumah Subchan yang berada di Jalan Banyumas 4, Menteng, Jakarta Pusat, menjadi salah satu markas anakanak muda melawan komunis. Dari rumah itu, disusun rencana aksi-aksi demonstrasi besar untuk menggoyang kekuasaan pemimpin revolusi Bung Karno.
Tokoh pemuda NU Subchan ZE 1966.
Sebagai Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS), Subchan ikut menandatangani keputusan peralihan kekuasan dari Presiden Soekarno kepada Soeharto.
Namun, hubungan mesra Subchan dengan Soeharto hanya bertahan lima tahun. Perlawanan Subchan kepada kekuasaan rezim Orde Baru, kata sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Asvi Warman Adam, ditandai dengan terbitnya “Buku Putih MPR”, setelah pelantikan anggota Dewan Perwakilan Rakyat/Majelis Permusyawaratan Rakyat hasil pemilu 1971. Dalam buku itu disebutkan pemerintah Orde Baru tidak menegakkan demokrasi dan rule of law. “Buku Putih ini lalu dibakar militer,” ujar Asvi saat ditemui Prioritas di kantornya.
Asvi menyebutkan, Subchan pernah berkonfrontosi tajam dengan Jenderal Amir Machmud, Menteri Dalam Negeri saat itu, menyangkut Pemilu 1971. Subchan melawan Peraturan Menteri Nomor 12 Tahun 1969 yang dikeluarkan Jenderal Amir. Peraturan itu memuat aturan bahwa semua pegawai negeri tidak boleh lagi berafiliasi dengan partai politik yang akan ikut Pemilu saat itu.
Ketika itu, konsepnya bernama monoloyalitas, yaitu pegawai negeri hanya boleh loyal kepada organisasi Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri). Komentar Subchan saat itu sangat keras. Dia menyebut bahwa itu bukan general election tapi election for general. “Dia melakukan perlawanan kepada Korpri yang menyatukan suara dari pegawai negeri untuk mendukung Golkar,” kata Asvi lagi.
Hingga kini, menurut Asvi, yang masih menjadi misteri dari Subchan adalah kematiannya. Subchan meninggal pada Ahad siang, 21 Januari 1973, di Tanah Suci Mekkah, karena kecelakaan lalu lintas. Sebelum wafat, Brian May, koresponden Kantor Berita Perancis Agence France-Presse (AFP) sempat mewawancarai Subchan.
Dalam wawancara itu, Subchan mengungkap tentang bisnis Soeharto dengan Ibnu Sutowo di Singapura. Saat musim haji, ketika Subchan mengalami kecelakaan, Jenderal Amir Machmud juga tengah berada di Tanah Suci.”Ini tetap janggal karena tidak ada investigasi pemerintah untuk mengusut kematiannya,” kata Asvi.
Gemar Berdansa
Penampilan Subchan Zaenuri Echsan yang cenderung flamboyan membuatnya kerap berseberangan dengan para kyai Nahdlatul Ulama (NU). “Subchan itu pergaulannya luas tapi cenderung bebas,” ujar tokoh Nahdlatul Ulama KH Salahuddin Wahid kepada Prioritas, beberapa waktu lalu.
Subchan pernah dipecat dua kali dari jabatannya sebagai Ketua I Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Pemecatan itu karena ditemukan sebuah foto yang menggambarkan Subchan sedang berdansa dengan seorang perempuan yang bukan muhrim di suatu tempat. “Di NU berdansa itu tidak bisa diterima,” ujar Gus Solah, sapaan Salahuddin Wahid.
Cosmas Batu Bara, aktifis 66, pernah melaksanakan pesta dansa bersama mahasiswa Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) di penghujung tahun 1965. Cosmas menilai, Subchan merupakan pedansa yang baik dan sopan sekali dalam mengajak mahasiswa untuk berdansa. Comas pernah menanyakan kepada Subchan, “Apakah tidak dilarang seorang tokoh Islam untuk berdansa.” Ketika itu, Subchan menjawab, “Saya kan masih lajang, dengan demikian saya bebas saja berdansa dengan wanita manapun.”
Meski Subchan suka berdansa, kata Umar Basalim, mantan Sekretaris Jenderal Majelis Permusyawaratan Rakyat, sebagai orang NU amalan agamanya sangat kuat sehingga KH Ali Ma’shum Krapyak, Yogyakarta, membela Subchan yang dipecat. “Kalau wiridan itu bisa panjang. Di mobil dia wiridan dengan bacaan khusus,” kata Umar.

See more at: http://www.prioritasnews.com/2012/10/29/tokoh-nahdliyin-yang-flamboyan/#sthash.tEKlE3cb.dpuf
Share:

DAPODIK SMP MA'ARIF NU 01 BUMIAYU

yang mau melihat kondisi Dapodik SMP Ma'arif NU 01 Bumiayu Kabupaten Brebes silakan klik disini
Share:

Pengunjung

Asal Negara

Flag Counter

Blog Archive