Jadwal Imsakiyyah untuk wilayah kabupaten Brebes dan sekitarnya
ah Bulan Ramadhan 1443 H untuk wilayah Kabupaten Brebes dan sekitarnya
Pembangunan Gedung NU Ranting Kalilangkap direalisasikan.
Musyawarah Ranting ( Musran ) Nahdlatul Ulama Desa Kalilangkap untuk kepengurusan ranting NU masa khidmat 2018-2023 telah laksanakan hari ini Rabu tanggal 27 syawal 1439 H / 11 Juli 2018 H. bertempat di Gedung Lantai 2 SMP Ma’arif NU 01 Bumiayu.
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Brebes mengadakan Bintek dan melaunching Sistem Informasi Strategis Nahdlatu Ulama (Sisnu) sekaligus Kartu Anggota Nahdlatul Ulama (KARTANU) wilayah Brebes Selatan.
Kegiatan kajian rutin kitab kuning, kitab Riyadusholihin pengurus ranting NU Kalilangkap
Maulid Nabi 2017
Pengurus Muslimat dan fatayat NU Kalilangkap
Khitanan Massal ranting NU Kalilangkap 2017
Pembangunan Gedung NU ranting NU Kalilangkap
Maulid Nabi tahun 2019
Peletakan batu pertama pembangunan gedung NU
Pengajian Maulid nabi Muhammad SAW dan Khitanan Massal pada hari kamis 25 Desember 2015, oleh Ranting NU, Muslimat NU, Fatayat NUdan GP Ansor berlangsung di KAR Legok.
Jadwal Imsakiyyah untuk wilayah kabupaten Brebes dan sekitarnya
Kegiatan rutin dua mingguan setiap malam Kamis, Kajian kitab kuning yang diselenggrakan oleh Pengurus ranting NU Kalilangkap Bumiayu.
Kegiatan kajian rutin kitab kuning, kitab Riyadusholihin pengurus ranting NU Kalilangkap pada tanggal 6 Januari 2021 di Musholla Nurusalam kalilangkap Timur.
Kitab yang menjadi hujjah amaliyah Nahdlatul Ulama
Kitab Hujjah Aswaja Karangan KH Ali Ma'shum Krapyak Yogyakarta
Setiap bulan di hari Ahad pahing, MWC NU Bumiayu mengadakan kajian rutin kitab Mafahim Yajibu Antushohah di Gedung MWC NU Bumiayu. Peserta pengajian sdalah pengurus MWC, Ranting, Muslimat, Fatayat, Ansor, IPNU, IPPNU.
Untuk melihat tentang ngaji mafahim silakan klik tautan diberikut NGAJI MAFAHIM _JURNAL
Info terkait lainnya:
CARANYA: setelah menyelesaikan pembuatan garis penghubung, klik FINISH, ....klik menu CHECK MY ANSWER
Untuk
terus memaksimalkan efektivitas pembelajaran jarak jauh di masa
pandemi Covid-19, LP Ma’arif NU menyelenggarakan pelatihan
pembelajaran jarak jauh. Pelatihan ini diikuti seratus kepala sekolah SD/MI seluruh
Indonesia. Pelatihan tersebut dikhususkan untuk kepala sekolah dan madrasah
yang berada di lingkungan LP Ma’arif NU seluruh Indonesia, Selasa (16/6) siang.
Ketua LP Ma’arif PBNU H Arifin Junaidi mengatakan dengan kondisi
daerah di Indonesia yang berbeda-beda, pembelajaran jarak jauh atau daring
dapat dilakukan dengan empat pola. Pembelajaran pola pertama menurutnya, banyak
daring dari pada tatap muka yang berlaku di daerah dengan jaringan internet
kuat. Pembelajaran kedua lebih banyak tatap muka daripada daring yang
berlaku di daerah belum terhubung jaringan internet atau internet belum stabil.
Sedangkan pola ketiga, pembelajaran daring dan tatap muka dalam porsi yang
sama, dimana harus di topang jaringan internet yang cukup kuat.
"Untuk pola keempat adalah sedikit daring dan sedikit tatap muka tetapi
kita tidak tahu apakah bisa diterapkan dalam pelaksanaanya atau tidak, melihat
target kurikulum yang harus dicapai," jelasnya. Arifin
Junaidi juga menyebutkan pelatihan penguatan pembelajaran jarak jauh via
zoom rencananya juga akan diselenggarakan dengan kepala SLTP/MTs dan SMA/SMK/MA
di lingkungan LP Ma'arif NU. Plt Kepala Pusat Data dan Teknologi
Informasi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Hasan Chabibi
menyebutkan dukungannya terhadap pelatihan yang dilakukan LP Ma’arif NU.
"Semua sekolah dan madrasah sekarang ini perlu merancang pembelajaran
online yang efektif untuk menyambut kebijakan new normal. Selain itu, juga
tolong diperhatikan aspek dan kondisi masing-masing daerah dalam penentuan
pembelajaran ini," kata Hasan Chabibi.
Selama pandemi
Mendikbud melakukan survei perkembangan proses belajar siswa yang dilakukan di
rumah dengan memberikan bermacam-macam tugas. Dari tugas-tugas tersebut, kata
dia, hasil survei urutan pertama siswa lebih banyak mengerjakan soal-soal dari
guru, dan urutan kedua belajar interaktif bersama guru secara daring.
"Urutan ketiga siswa belajar dari aplikasi seperti ruang guru; dan urutan
keempat dan seterusnya antara lain kegiatan praktik, belajar dari sumber
digital, belajar dari buku-buku non-teks pelajaran, belajar dari TV, belajar
dari radio, dan lainnya," jelasnya. Ia menambahkan dari hasil
survei Mendikbud tersebut bisa menjadi gambaran para guru pengampu pelajaran.
Ia menyarankan kepada guru-guru untuk diimbangi dengan perhatian, motivasi, dan
dukungan kepada siswa-siswi.

Sebentar lagi, seluruh umat muslim akan
merasakan semangat Hari Raya Idul Adha atau Idul Kurban. Hari raya
ini ditandai dengan menyembelih hewan kurban, untuk dibagikan kepada masyarakat
sekitar. Hewan kurban ini sendiri umumnya berupa kambing, domba, sapi ataupun
kerbau. Hari raya ini juga dikenal dengan hari berbagi, di mana masyarakat yang
mampu dianjurkan berkurban dan membagi hewan kurbannya bagi umat muslim yang
tidak mampu. Namun, dibalik itu semua, hari raya kurban juga bisa
dijadikan momentum untuk memotong bibit kebencian dan radikalisme, yang
barangkali masih ada dalam diri masing-masing. Hal ini penting karena sifat
saling membenci, sifat egois, fanatik bahkan radikal tersimpan dalam diri
manusia masif terjadi. Sifat itu adalah sifat kebinatangan yang harus
disembelih dan dibuang dalam diri manusia. “Dengan kurban, berarti umat
Islam harus menyembelih kesadaran sifat tidak baik, supaya menjadi kesadaran
yang baik, kesadaran dalam menempuh proses dalam kehidupan ini. Kalau dalam
proses kehidupan tidak menempuh jalan yang benar, maka harus dipotong kembali
untuk menempuh jalan yang benar,” ujar Dosen Fakultas Syari'ah dan Hukum
Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Hamim Ilyas di
Yogyakarta. Sebenarnya, menurut dia, tantangan untuk umat Islam dalam
peristiwa ini ada dalam hikmah ibadah qurban itu sendiri, yakni menyembelih
sifat-sifat hewani pada diri manusia. Selain itu, secara teologis yang
seharusnya ‘disembelih’ adalah doktrin-doktrin yang tidak sesuai dengan agama.
Lebih jauh, ia mengatakan perlunya merekonstruksi tentang dasar dari
perilaku jahat termasuk radikalisme kekerasan. “Termasuk juga rekonstruksi
tentang konsep radikalisme. Karena aksi radikalisme itu berpangkal pada
pemikiran, maka pemikiran radikalisme yang bertumpu pada ajaran radikal harus
direkonstruksi,” ujarnya. Oleh karena itu momentum Idul Adha atau Idul
Kurban ini menurutnya masyarakat muslim ini harus dapat bisa berbagi antar
sesama tanpa mementingkan kepentingan diri sendiri atau merasa benar sendiri.
Apalagi di tengah era globalisasi ini supaya warga dunia tidak terlindas oleh
globalisasi itu maka warga dunia harus memberi kontribusi terhadap peradaban
dunia
Majelis Taklim Kanzul Ilmi Center
(KIC) menyelenggarakan acara Cafe Aswaja Milenial untuk ketiga kalinya Jumat
pekan lalu. Dengan bertempat di gedung Majelis Taklim KIC Jalan Raya Talok
Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah ini mengusung tema Hijrah Millenial
dalam Perspektif Aswaja. Acara yang diikuti oleh sekitar tiga ratusan siswa
siswi sekolah menengah umum (SMU) se-Brebes Selatan ini dihadiri oleh dua
narasumber dari Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Jawa Tengah. Acara yang
berlangsung mulai pukul 13.30 WIB berlangsung sampai pukul 16.30 WIB. Waktu
yang disediakan panitia tersebut dirasa sangat kurang karena tingginya animo
peserta Cafe Aswaja Milenial dalam mengikuti acara tersebut, hal ini nampak
dari banyaknya pertanyaan yang muncul dari dua sesi tersebut. Kanzul Ilmi
Center merupakan majelis taklim yang diresmikan pada 2 Desember 2018 bergerak
dalam bidang pengajian. Tidak hanya kepada para orang tua, pengajian dan
pembinaan akhlak juga dilakukan kepada generasi muda. Hal ini dibuktikan dengan
diselenggarakannya kegiatan Cafe Aswaja untuk para generasi milenial dengan
tujuan mendampingi para generasi milenial agar tidak terkontaminasi oleh
pemahaman agama menyimpang yang saat ini marak di media sosial.
Tema-tema
yang diusung dalam setiap kali pelaksanaan Cafe Aswaja Milenial juga
disesuaikan dengan tren yang ada di dunia maya. Seperti tema hijrah yang sedang
marak dan menjadi trending topic. Acara cafe milenial ini terselenggara atas
kerja sama antara KIC dengan SMA Negeri 1 Bumiayu dan tidak menutup kemungkinan
sekolah lain untuk juga turut pada acara tersebut. Hal ini dibuktikan dengan
banyaknya siswa dari sekolah lain yang juga hadir pada setiap acara tersebut.
Hingga tak kurang dari 300 peserta hadir pada siang itu. Hadir pada siang
itu adalah KH Abdul Basith (Wakil Ketua LDNU Jawa Tengah) dan KH Nashif
‘Ubbadah (PWNU Jawa Tengah). Dua kiai jebolan Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir
ini membahas tema Hijrah dalam Perspektif Aswaja dengan tuntas disertai dengan
contoh-contoh yang gamblang. Acara yang dimoderatori oleh Solehudin ini
berjalan dengan materi pertama disampaikan oleh Kiai Abdul Basith. Dalam
paparannya, kiai yang berdomisili di Purwoyoso, Ngalian, Semarang ini
menjelaskan tentang pengertian dan sejarah awal munculnya hijrah di dalam
Islam. Dalam pembukaannya, Kiai Basith merasa sangat trenyuh karena melihat
fenomena yang ada di Kota Bumiayu yang ternyata generasi mudanya masih suka
ngaji.
Hal
ini menurutnya berbeda jauh dengan yang terjadi di kota-kota besar, misalnya
Semarang. Fenomena ngaji di Semarang sudah tergantikan dengan ngaji dari medsos
yang gurunya adalah mbah google. Menurut Kiai Basith hijrah pada dasarnya
adalah saat Rasul pindah dari Mekah ke Madinah. Kemudian mengalami pelebaran
makna dengan berpindah dari sesuatu yangbelum baik atau kurang baik menjadi
lebih baik. Hijrah dalam hal budaya dikenal dengan tradisi menjaga dan
melestarikan sesuatu yang baik dan mengambil sesuatu yang lebih baik.
“Jadi
hijrah dalam hal budaya adalah mengambil budaya yang baik dan tidak harus
budaya yang serba datangnya dari Arab,” ujar Kiai Basith. Konteks sekarang ini
banyak sekali wacana tentang hijrah namun juga tak sedikit yang salah
dalam mengartikan hijrah itu sendiri. Dalam ajaran Islam, akhlakul karimah
merupakan ajaran yang harus dikedepankan. Seperti akhlak seorang murid kepada
guru, guru kepada murid. Ada juga akhlak anak kepada orang tua. Semua tuntas
dibahas di dalam Islam. Namun banyak orang mengikuti hijrah justru salah
kaprah. Sekarang ini banyak anak yang justru mengatur orang tua, murid mengatur
gurunya. Seperti, “harusnya bapak dalam mengajar saya dengan metodologi yang
bagus jadi saya mudah memahami pelajaran” atau ada lagi “ harusnya ibu memberi
saya uang jajan yang cukup agar saya dapat membeli berbagai macam kebutuhan
saya”. Sering kalimat seperti itu keluar dari mulut seorang murid kepada
gurunya atau seorang anak kepada orang tuanya. Ini merupakan hal yang tidak
benar dan karenanya kita harus bisa hijrah. Pindah dari hal yang tidak baik
menjadi lebih baik. “Saya sangat kagum kepada masyayikh saat belajar di Azhar
(Kairo Mesir)”, kata Kiai Basith.
Saat di tahun 90 mengalami krisis ekonomi, banyak anak-anak Indonesia yang sekolah di Mesir bingung. Karena mereka terancam putus sekolah. Maka apa yang dilakukan oleh Masyayikh di Azhar? Mereka menyampaikan bahwa, Kamu jangan pulang, jangan takut, jangan khawatir. Kalau ada masalah finansial maka pintu kantorku terbuka sebelum pintu rumahku, insyaallah dibantu, untuk keperluan diktat ataupun untuk makan,” demikian lanjut cerita Kiai Basith. Hal itu seperti yang berlaku di pesantren, saat kiai memberikan gratisan makan dan sekolah kepada para santrinya dan setelah pulang sekolah membantu kiai, itu sangat memberi arti yang mendalam kepada para santri. Hingga adab murid kepada guru terjaga dengan baik. Hal tersebut berbeda dengan yang terjadi di media sosial. Karena merasa sudah pinter maka kemudian memberikan komentar tanpa adab, tanpa sopan santun. Seperti di medsos, orang yang tidak pernah belajar agama berani menghina kiai yang belajar agama dari kecil hingga tua. Makanya kita semua harus selektif, jangan mudah percaya. Tanya pada orang yang kompeten jika tidak tahu. Narasumber kedua pada acara Cafe Aswaja Milenial yang diselenggarakan oleh Majlis Taklim Kanzul Ilmi Center adalah Kiai Nashif ‘Ubbadah. Kiai Nasif lebih banyak menyampaikan tentang keprihatinannya atas serangan kepada generasi muda NU dari media sosial. Kiai yang berdomisili di Pesantren Al-Muntaha Salatiga ini menjelaskan tentang betapa dahsyatnya serangan udara (internet) kepada generasi muda NU. “Jadi kegiatan Cafe aswaja ini sangat bermanfaat untuk memberi pengetahuan bahwa di medsos semua ada, NU ada, Muhamadiyah ada, HTI juga ada. Dan hal ini diperparah fenomena generasi muda yang lebih suka mencari jawab tentang agama melalui medsos. Bukan kepada guru atau kiai,” jelas Kiai Nashif. Ia menjelaskan tentang Komunitas Royatul Islam lebih menyasar kepada kepada generasi muda, anak-anak muda dan masuk ke sekolah-sekolah. Terutama di Jawa Barat. Dengan menggunakan atribut berupa kaos, topi dengan bertuliskan kalimat tauhid. Padalah menurut Kiai Nashif, ada tujuan tersembunyi dari itu semua, yakni untuk membuat gelombang baru. Seperti juga dengan melakukan latihan fisik seperti memanah dan berenang, ada maksud di dalamnya. Dengan latihan fisik yang teratur mereka diarahkan untuk menjadi tentara-tentara yang mahir secara fisik yang tujuan akhirnya adalah mendirikan negara khilafah. “Saya sudah melakukan penelitian dengan berbagai hal yang berhubungan dengan hijrah dan HTI, di seminar saya sudah tiga kali. Dan dari penelitian tersebut saya mengamati bahwa walaupun mereka sudah dibekukan tapi di medsos mereka masih aktif, hal ini disebabkan oleh karena regulasi yang masih lemah, masih memberikan peluang untuk mereka terus berkembang,” kata Kiai Nashif. Mereka berusaha menciptakan gelombang baru yang berbeda dengan mainstream. Gelombang itu yang pertama adalah secara dhohir, dari segi dari penampilan. Mereka mengedepankan identitas dengan berjenggot, tidak suka memakai sarung, batik dan tidak mau memakai peci hitam. Mereka lebih memilih pakai topi dan celana jeans. Kedua,secara ajaran. Tidak berlandaskan Ahlusunnah wal Jamaah. Ketiga adalah pada ideologi yaitu khilafah. Dan hijrah yang mereka sasar bukan para orang tua atau generasi old yang mereka sasar adalah para generasi muda terutama kaum milenial. Hal ini disebabkan karena mereka lebih percaya diri untuk berkomunikasi menyampaikan ideologinya pada anak muda, tidak kepada orang tua. “Karenanya, dalam bermedsos kita harus berhati-hati, karena di medsos semua ada, maka kita harus punya filter sendiri,” jelas Kiai Nashif. Acara Cafe Aswaja Milenial yang berlangsung selama hampir tiga jam itu juga diwarnai dengan berbagai pertanyaan menarik yang disampaikan oleh para peserta. Setidaknya ada lima penanya yang tidak hanya menyampaikan pertanyaan saja, namun juga memberikan berbagai masukan baik kepada pihak sekolah dalam hal ini para guru dan Kepala Sekolah. Masukan juga disampaikan kepada pengelola Majelis Taklim Kanzul Ilmi Center agar bisa lebih memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang berbagai cara untuk menangkal pergerakan salah kaprah hijrah di kalangan generasi milenial. Acara diakhiri dengan harapan bahwa acara Cafe Aswaja Millenial dapat terus diselenggarakan dan menyasar kepada lebih banyak generasi muda di wilayah Brebes.
(Lili/Fathoni)
Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/104140/cafe-aswaja-untuk-generasi-milenial-di-brebes
Teknologi juga telah membuat konsolidasi organisasi menjadi lebih gampang. Komunikasi dan koordinasi yang sebelumnya susah dan memerlukan biaya mahal kini menjadi sangat gampang. Aplikasi WhatsApp (WA), Line, Telegram, Skype dan sejenisnya yang bisa diunduh secara gratis membantu mengoordinasikan berbagai kegiatan dengan gampang. Ada banyak sekali perangkat lunak untuk membantu berbagai kegiatan menjadi lebih mudah. Ketika teknologi telah tersedia dengan biaya murah, maka yang diperlukan adalah kapasitas menggunakannya dengan baik. Maka di sini, yang berlaku adalah kualitas sumber daya manusia. Prinsipnya adalah man behind the gun atau orang yang menggunakan senjata, bukan senjata itu sendiri. Betapapun canggihnya senjata, tentara yang memegangnya tidak kompeten, maka akan kalah dalam peperangan. Banyak orang kini mengalami kecanduan internet. Mereka menghabiskan sebagian besar waktunya berselancar di internet sementara interaksi sosialnya di dunia nyata menjadi sangat berkurang. Hal ini kemudian menimbulkan depresi, kecemasan atau persoalan psikologis lainnya. Saat ongkos komunikasi hampir gratis, ternyata ada masalah lain yang muncul karena ketidakmampuan untuk mengelola secara tepat aktivitas di dunia maya. Berbagai persoalan yang sebelumnya yang menjadi konsumsi pribadi dikeluhkan di dunia maya. Orang-orang mengejar popularitas di dunia maya dengan melakukan hal-hal yang kontroversial. Yang dulu menjadi tabu dalam masyarakat kini menjadi biasa dilakukan. Menghina orang lain dengan kata-kata kasar kini dengan gampang ditemui di media sosial. Remaja yang belajar agama hanya di internet membantah pendapat ulama bidang tertentu yang kompeten. Penyebaran hoaks merupakan tantangan serius lainnya yang muncul dalam era digital. Berita bohong sudah ada sejak dahulu. Kini, hoaks bisa dengan gampang menyebar dari satu grup ke grup media sosial lainnya, diamplifikasi oleh tokoh tertentu sehingga menimbulkan kepanikan di masyarakat. Literasi digital yang rendah menyebabkan tidak ada upaya pengecekan informasi yang diterima sebelum disebarkan. Informasi yang sesuai dengan pendapatnya, hanya dengan ujung jari sudah menyebar ke mana-mana. Belum ada budaya malu di masyarakat bahwa dirinya telah menyebarkan berita bohong sehingga tidak kehati-hatian dalam menyebarkan informasi. Publik saat ini banyak membahas revolusi industi 4.0 yang mana peran-peran manusia dalam dunia kerja akan digantikan dengan otomatisasi mesin. Pekerjaan-pekerjaan kasar dan berulang akan digantikan dengan teknologi digital yang lebih akurat dan efisien. Tanpa terasa, sesungguhnya, banyak pekerjaan sudah tergantikan dengan mesin. Di pintu masuk tempat parkir, sudah jarang yang menempatkan penjaga untuk mencatat nomor kendaraan yang masuk. Pengunjung tinggal menekan tombol masuk untuk mendapatkan tiket. CCTV mengurangi kebutuhan penjaga keamanan. Perangkat lunak penerjemah otomatis atau perangkat lunak pengubah suara dari teks juga ada. Itu merupakan bagian-bagian kecil inovasi yang terus tumbuh dan terakumulasi.
Para inovator di seluruh dunia melalui perusahaan-perusahaan rintisan saling bersaing menemukan hal-hal baru yang ditawarkan kepada masyarakat. Temuan baru yang sangat canggih dalam dua atau tiga tahun kemudian sudah dianggap usang karena kecepatan inovasi tersebut. Semua pihak berusaha saling mengantisipasi perubahan atau menciptakan trend baru, menciptakan aturan baru untuk memenangkan persaingan. Situasi seperti ini biasa disebut volatility, uncertainty, complexity, and ambiguity (VUCA) atau volatilitas, ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas. Jika para inovator harus selalu berpikir keras agar selalu kompetitif terhadap para pesaingnya, bagaimana nasib buruh tani dan petani kecil di daerah-daerah pedesaan. Pengetahuan, akses informasi, dan ketrampilan yang dimiliki terbatas. Tanpa disadari, mereka sesungguhnya korban paling besar dari perubahan dahsyat ini. Saat ini para pedagang konvensional, baik yang berskala besar atau kecil, yang menjajakan dagangannya melalui toko-toko sudah banyak bertumbangan berhadapan dengan mereka yang berjualan di dunia maya. Para petani sejak lama telah termarginalkan dan semakin susah untuk mengatasi persoalan ini tanpa upaya luar biasa dari banyak pihak. Menyiapkan diri warga NU dalam menghadapi perubahan teknologi dan revolusi digital yang memberi banyak kemudahan tetapi sekaligus mengancam peran-peran kemanusiaan inilah tantangan yang harus dipikirkan oleh NU. Bagaimana menumbuhkan literasi digital dan menyiapkan jutaan petani, buruh, dan kelompok masyarakat yang terpinggirkan menghadapi perubahan yang semakin meminimalisasi peran-peran mereka. Nasib jutaan orang, tergantung pada apa yang kita lakukan hari ini. Inilah peluang sekaligus tantangan NU yang harus kita siapkan hari ini agar dapat terus berperan di masa mendatang. (Achmad Mukafi Niam)