• Gedung NU

    Pembangunan Gedung NU Ranting Kalilangkap direalisasikan.

  • MUSRAN NU Kalilangkap 2018

    Musyawarah Ranting ( Musran ) Nahdlatul Ulama Desa Kalilangkap untuk kepengurusan ranting NU masa khidmat 2018-2023 telah laksanakan hari ini Rabu tanggal 27 syawal 1439 H / 11 Juli 2018 H. bertempat di Gedung Lantai 2 SMP Ma’arif NU 01 Bumiayu.

  • BINTEK KARTANU

    Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Brebes mengadakan Bintek dan melaunching Sistem Informasi Strategis Nahdlatu Ulama (Sisnu) sekaligus Kartu Anggota Nahdlatul Ulama (KARTANU) wilayah Brebes Selatan.

  • Kajian Rutin Malam Kamis

    Kegiatan kajian rutin kitab kuning, kitab Riyadusholihin pengurus ranting NU Kalilangkap

  • Slide5

    Maulid Nabi 2017

  • Slide6

    Pengurus Muslimat dan fatayat NU Kalilangkap

  • Slide 7

    Khitanan Massal ranting NU Kalilangkap 2017

  • Slide 8

    Pembangunan Gedung NU ranting NU Kalilangkap

  • Slide 9

    Maulid Nabi tahun 2019

  • Slide 10

    Peletakan batu pertama pembangunan gedung NU

  • Maulid Nabi Muhammad Saw dan Khitanan Massal 2015

    Pengajian Maulid nabi Muhammad SAW dan Khitanan Massal pada hari kamis 25 Desember 2015, oleh Ranting NU, Muslimat NU, Fatayat NUdan GP Ansor berlangsung di KAR Legok.

Assalamualaikum Wr.Wb.

SELAMAT ATAS MUSRAN NU KALILANGKAP MASA KHIDMAT 2023-2028.....MEDIA INFORMASI DAN DOKUMENTASI KEGIATAN RANTING NU DAN BADAN OTONOM RANTING KALILANGKAP
Showing posts with label ASWAJA. Show all posts
Showing posts with label ASWAJA. Show all posts

03 April 2022

JADWAL IMSAKIYYAH BULAN RAMADHAN 1443 H

 Jadwal Imsakiyyah untuk wilayah kabupaten Brebes dan sekitarnya


ah Bulan Ramadhan 1443 H untuk wilayah Kabupaten Brebes dan sekitarnya

Share:

17 December 2021

30 January 2021

WAWASAN KE-NU-AN (2)


DATA SKOR

Share:

16 January 2021

JURNAL KAJIAN DUA MINGGUAN KITAB KUNING RANTING NU KALILANGKAP

Kegiatan rutin dua mingguan setiap malam Kamis, Kajian kitab kuning yang diselenggrakan oleh Pengurus ranting NU Kalilangkap Bumiayu.



Share:

KAJIAN RUTIN KITAB KUNING

Kegiatan kajian rutin kitab kuning, kitab Riyadusholihin pengurus ranting NU Kalilangkap pada tanggal 6 Januari 2021 di Musholla Nurusalam kalilangkap Timur.




Info terkait lainnya:

Share:

02 January 2021

KITAB HUJJAH NU

 


Kitab yang menjadi hujjah amaliyah Nahdlatul Ulama

Kitab Hujjah Aswaja Karangan KH Ali Ma'shum Krapyak Yogyakarta

Share:

01 November 2020

NGAJI MAFAHIM MWC NU BUMIAYU

Setiap bulan di hari Ahad pahing, MWC NU Bumiayu mengadakan kajian rutin kitab Mafahim Yajibu Antushohah di Gedung MWC NU Bumiayu. Peserta pengajian sdalah pengurus MWC, Ranting, Muslimat, Fatayat, Ansor, IPNU, IPPNU. 




Untuk melihat tentang ngaji mafahim silakan klik tautan diberikut  NGAJI MAFAHIM _JURNAL








Info terkait lainnya:

Share:

25 October 2020

TES PENGETAHUAN DASAR KE NU AN

CARANYA: setelah menyelesaikan pembuatan garis penghubung, klik FINISH, ....klik menu CHECK MY ANSWER


Ke-NU-an, an interactive worksheet by Solahudin
liveworksheets.com
Share:

20 June 2020

MAARIF NU AJAK KEPALA SEKOLAH MATANGKAN EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN JARAK JAUH

Untuk terus memaksimalkan efektivitas pembelajaran jarak jauh di masa pandemi Covid-19, LP Ma’arif NU menyelenggarakan pelatihan pembelajaran jarak jauh. Pelatihan ini diikuti seratus kepala sekolah SD/MI seluruh Indonesia. Pelatihan tersebut dikhususkan untuk kepala sekolah dan madrasah yang berada di lingkungan LP Ma’arif NU seluruh Indonesia, Selasa (16/6) siang.   Ketua LP Ma’arif PBNU H Arifin Junaidi mengatakan dengan kondisi daerah di Indonesia yang berbeda-beda, pembelajaran jarak jauh atau daring dapat dilakukan dengan empat pola. Pembelajaran pola pertama menurutnya, banyak daring dari pada tatap muka yang berlaku di daerah dengan jaringan internet kuat.   Pembelajaran kedua lebih banyak tatap muka daripada daring yang berlaku di daerah belum terhubung jaringan internet atau internet belum stabil. Sedangkan pola ketiga, pembelajaran daring dan tatap muka dalam porsi yang sama, dimana harus di topang jaringan internet yang cukup kuat.   "Untuk pola keempat adalah sedikit daring dan sedikit tatap muka tetapi kita tidak tahu apakah bisa diterapkan dalam pelaksanaanya atau tidak, melihat target kurikulum yang harus dicapai," jelasnya.   Arifin Junaidi juga menyebutkan pelatihan penguatan pembelajaran jarak jauh via zoom rencananya juga akan diselenggarakan dengan kepala SLTP/MTs dan SMA/SMK/MA di lingkungan LP Ma'arif NU.   Plt Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Hasan Chabibi menyebutkan dukungannya terhadap pelatihan yang dilakukan LP Ma’arif NU.   "Semua sekolah dan madrasah sekarang ini perlu merancang pembelajaran online yang efektif untuk menyambut kebijakan new normal. Selain itu, juga tolong diperhatikan aspek dan kondisi masing-masing daerah dalam penentuan pembelajaran ini," kata Hasan Chabibi.  

Selama pandemi Mendikbud melakukan survei perkembangan proses belajar siswa yang dilakukan di rumah dengan memberikan bermacam-macam tugas. Dari tugas-tugas tersebut, kata dia, hasil survei urutan pertama siswa lebih banyak mengerjakan soal-soal dari guru, dan urutan kedua belajar interaktif bersama guru secara daring.   "Urutan ketiga siswa belajar dari aplikasi seperti ruang guru; dan urutan keempat dan seterusnya antara lain kegiatan praktik, belajar dari sumber digital, belajar dari buku-buku non-teks pelajaran, belajar dari TV, belajar dari radio, dan lainnya," jelasnya.   Ia menambahkan dari hasil survei Mendikbud tersebut bisa menjadi gambaran para guru pengampu pelajaran. Ia menyarankan kepada guru-guru untuk diimbangi dengan perhatian, motivasi, dan dukungan kepada siswa-siswi.



Sumber: 
https://www.nu.or.id/post/read/120950/maarif-nu-ajak-kepala-sekolah-matangkan-efektivitas-pembelajaran-jarak-jauh
Share:

30 January 2020

KISAH KH AS'AD SYAMSUL ARIFIN: BERDIRINYA NU 1926

Kisah tentang awal mula berdirinya Jamiyyah Nahdlatul Ulama (NU) diceritakan oleh Kyai haji As'ad Syamsul Arifin ( dengan bahasa daerah Situbondo. Monggo disimak di link VIDEO berikut ini.


Atau link di bawah ini

 KH As''ad Syamsul Arifin mengisahkan Sejarah berdiri NU





Share:

20 August 2019

Idul Adha, Momentum untuk ‘Menyembelih’ Sifat Jahat dalam Manusia

Idul Adha, Momentum untuk ‘Menyembelih’ Sifat Jahat dalam Manusia


Sebentar lagi, seluruh umat muslim akan merasakan semangat Hari Raya Idul Adha atau Idul Kurban. Hari raya ini ditandai dengan menyembelih hewan kurban, untuk dibagikan kepada masyarakat sekitar. Hewan kurban ini sendiri umumnya berupa kambing, domba, sapi ataupun kerbau. Hari raya ini juga dikenal dengan hari berbagi, di mana masyarakat yang mampu dianjurkan berkurban dan membagi hewan kurbannya bagi umat muslim yang tidak mampu.   Namun, dibalik itu semua, hari raya kurban juga bisa dijadikan momentum untuk memotong bibit kebencian dan radikalisme, yang barangkali masih ada dalam diri masing-masing. Hal ini penting karena sifat saling membenci, sifat egois, fanatik bahkan radikal tersimpan dalam diri manusia masif terjadi. Sifat itu adalah sifat kebinatangan yang harus disembelih dan dibuang dalam diri manusia.   “Dengan kurban, berarti umat Islam harus menyembelih kesadaran sifat tidak baik, supaya menjadi kesadaran yang baik, kesadaran dalam menempuh proses dalam kehidupan ini. Kalau dalam proses kehidupan tidak menempuh jalan yang benar, maka harus dipotong kembali untuk menempuh jalan yang benar,” ujar Dosen Fakultas Syari'ah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Hamim Ilyas di Yogyakarta.   Sebenarnya, menurut dia, tantangan untuk umat Islam dalam peristiwa ini ada dalam hikmah ibadah qurban itu sendiri, yakni menyembelih sifat-sifat hewani pada diri manusia. Selain itu, secara teologis yang seharusnya ‘disembelih’ adalah doktrin-doktrin yang tidak sesuai dengan agama.   Lebih jauh, ia mengatakan perlunya merekonstruksi tentang dasar dari perilaku jahat termasuk radikalisme kekerasan. “Termasuk juga rekonstruksi tentang konsep radikalisme. Karena aksi radikalisme itu berpangkal pada pemikiran, maka pemikiran radikalisme yang bertumpu pada ajaran radikal harus direkonstruksi,” ujarnya.   Oleh karena itu momentum Idul Adha atau Idul Kurban ini menurutnya masyarakat muslim ini harus dapat bisa berbagi antar sesama tanpa mementingkan kepentingan diri sendiri atau merasa benar sendiri. Apalagi di tengah era globalisasi ini supaya warga dunia tidak terlindas oleh globalisasi itu maka warga dunia harus memberi kontribusi terhadap peradaban dunia



Sumber: 
https://www.nu.or.id/post/read/109726/idul-adha--momentum-untuk--menyembelih--sifat-jahat-dalam-manusia
Share:

03 April 2019

TELAH BERDIRI CAFE ASWAJA BUMIAYU

Cafe Aswaja untuk Generasi Milenial di Brebes

Cafe Aswaja untuk Generasi Milenial di Brebes

Majelis Taklim Kanzul Ilmi Center (KIC) menyelenggarakan acara Cafe Aswaja Milenial untuk ketiga kalinya Jumat pekan lalu. Dengan bertempat di gedung Majelis Taklim KIC Jalan Raya Talok Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah ini mengusung tema Hijrah Millenial dalam Perspektif Aswaja. Acara yang diikuti oleh sekitar tiga ratusan siswa siswi sekolah menengah umum (SMU) se-Brebes Selatan ini dihadiri oleh dua narasumber dari Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Jawa Tengah. Acara yang berlangsung mulai pukul 13.30 WIB berlangsung sampai pukul 16.30 WIB. Waktu yang disediakan panitia tersebut dirasa sangat kurang karena tingginya animo peserta Cafe Aswaja Milenial dalam mengikuti acara tersebut, hal ini nampak dari banyaknya pertanyaan yang muncul dari dua sesi tersebut. Kanzul Ilmi Center merupakan majelis taklim yang diresmikan pada 2 Desember 2018 bergerak dalam bidang pengajian. Tidak hanya kepada para orang tua, pengajian dan pembinaan akhlak juga dilakukan kepada generasi muda. Hal ini dibuktikan dengan diselenggarakannya kegiatan Cafe Aswaja untuk para generasi milenial dengan tujuan mendampingi para generasi milenial agar tidak terkontaminasi oleh pemahaman agama menyimpang yang saat ini marak di media sosial.

Tema-tema yang diusung dalam setiap kali pelaksanaan Cafe Aswaja Milenial juga disesuaikan dengan tren yang ada di dunia maya. Seperti tema hijrah yang sedang marak dan menjadi trending topic. Acara cafe milenial ini terselenggara atas kerja sama antara KIC dengan SMA Negeri 1 Bumiayu dan tidak menutup kemungkinan sekolah lain untuk juga turut pada acara tersebut. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya siswa dari sekolah lain yang juga hadir pada setiap acara tersebut. Hingga tak kurang dari 300 peserta hadir pada siang itu.  Hadir pada siang itu adalah KH Abdul Basith (Wakil Ketua LDNU Jawa Tengah) dan KH Nashif ‘Ubbadah (PWNU Jawa Tengah). Dua kiai jebolan Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir ini membahas tema Hijrah dalam Perspektif Aswaja dengan tuntas disertai dengan contoh-contoh yang gamblang. Acara yang dimoderatori oleh Solehudin ini berjalan dengan materi pertama disampaikan oleh Kiai Abdul Basith. Dalam paparannya, kiai yang berdomisili di Purwoyoso, Ngalian, Semarang ini menjelaskan tentang pengertian dan sejarah awal munculnya hijrah di dalam Islam. Dalam pembukaannya, Kiai Basith merasa sangat trenyuh karena melihat fenomena yang ada di Kota Bumiayu yang ternyata generasi mudanya masih suka ngaji.

Hal ini menurutnya berbeda jauh dengan yang terjadi di kota-kota besar, misalnya Semarang. Fenomena ngaji di Semarang sudah tergantikan dengan ngaji dari medsos yang gurunya adalah mbah google. Menurut Kiai Basith hijrah pada dasarnya adalah saat Rasul pindah dari Mekah ke Madinah. Kemudian mengalami pelebaran makna dengan berpindah dari sesuatu yangbelum baik atau kurang baik menjadi lebih baik. Hijrah dalam hal budaya dikenal dengan tradisi  menjaga dan melestarikan sesuatu yang baik dan mengambil sesuatu yang lebih baik.

“Jadi hijrah dalam hal budaya adalah mengambil budaya yang baik dan tidak harus budaya yang serba datangnya dari Arab,” ujar Kiai Basith. Konteks sekarang ini banyak sekali wacana  tentang hijrah namun juga tak sedikit yang salah dalam mengartikan hijrah itu sendiri. Dalam ajaran Islam, akhlakul karimah merupakan ajaran yang harus dikedepankan. Seperti akhlak seorang murid kepada guru, guru kepada murid. Ada juga akhlak anak kepada orang tua. Semua tuntas dibahas di dalam Islam. Namun banyak orang mengikuti hijrah justru salah kaprah. Sekarang ini banyak anak yang justru mengatur orang tua, murid mengatur gurunya. Seperti, “harusnya bapak dalam mengajar saya dengan metodologi yang bagus jadi saya mudah memahami pelajaran” atau ada lagi “ harusnya ibu memberi saya uang jajan yang cukup agar saya dapat membeli berbagai macam kebutuhan saya”. Sering kalimat seperti itu keluar dari mulut seorang murid kepada gurunya atau seorang anak kepada orang tuanya. Ini merupakan hal yang tidak benar dan karenanya kita harus bisa hijrah. Pindah dari hal yang tidak baik menjadi lebih baik. “Saya sangat kagum kepada masyayikh saat belajar di Azhar (Kairo Mesir)”, kata Kiai Basith.

Saat di tahun 90 mengalami krisis ekonomi, banyak anak-anak Indonesia yang sekolah di Mesir bingung. Karena mereka terancam putus sekolah. Maka apa yang dilakukan oleh Masyayikh di Azhar? Mereka menyampaikan bahwa, Kamu jangan pulang, jangan takut, jangan khawatir. Kalau ada masalah finansial maka pintu kantorku terbuka sebelum pintu rumahku, insyaallah dibantu, untuk keperluan diktat ataupun untuk makan,” demikian lanjut cerita Kiai Basith. Hal itu seperti yang berlaku di pesantren, saat kiai memberikan gratisan makan dan sekolah kepada para santrinya dan setelah pulang sekolah membantu kiai, itu sangat memberi arti yang mendalam kepada para santri.  Hingga adab murid kepada guru terjaga dengan baik. Hal tersebut berbeda dengan yang terjadi di media sosial. Karena merasa sudah pinter maka kemudian memberikan komentar tanpa adab, tanpa sopan santun. Seperti di medsos, orang  yang tidak pernah belajar agama berani menghina kiai yang belajar agama dari kecil hingga tua. Makanya kita semua harus selektif, jangan mudah percaya. Tanya pada orang yang kompeten jika tidak tahu. Narasumber kedua pada acara Cafe Aswaja Milenial yang diselenggarakan oleh Majlis Taklim Kanzul Ilmi Center adalah Kiai Nashif ‘Ubbadah. Kiai Nasif lebih banyak menyampaikan tentang keprihatinannya atas serangan kepada generasi muda NU dari media sosial. Kiai yang berdomisili di Pesantren Al-Muntaha Salatiga ini menjelaskan tentang betapa dahsyatnya serangan udara (internet) kepada generasi muda NU. “Jadi kegiatan Cafe aswaja ini sangat bermanfaat untuk memberi pengetahuan bahwa di medsos semua ada, NU ada, Muhamadiyah ada, HTI juga ada. Dan hal ini diperparah fenomena generasi muda yang lebih suka mencari jawab tentang agama melalui medsos. Bukan kepada guru atau kiai,” jelas Kiai Nashif. Ia menjelaskan tentang Komunitas Royatul Islam lebih menyasar kepada kepada generasi muda, anak-anak muda dan masuk ke sekolah-sekolah. Terutama di Jawa Barat. Dengan menggunakan atribut berupa kaos, topi dengan bertuliskan kalimat tauhid. Padalah menurut Kiai Nashif, ada tujuan tersembunyi dari itu semua, yakni untuk membuat gelombang baru. Seperti juga dengan melakukan latihan fisik seperti memanah dan berenang, ada maksud di dalamnya. Dengan latihan fisik yang teratur mereka diarahkan untuk menjadi tentara-tentara yang mahir secara fisik yang tujuan akhirnya adalah mendirikan negara khilafah. “Saya sudah melakukan penelitian dengan berbagai hal yang berhubungan dengan hijrah dan HTI, di seminar saya sudah tiga kali. Dan dari penelitian tersebut saya mengamati bahwa walaupun mereka sudah dibekukan tapi di medsos mereka masih aktif, hal ini disebabkan oleh  karena regulasi yang masih lemah, masih memberikan peluang untuk mereka terus berkembang,” kata Kiai Nashif. Mereka berusaha menciptakan gelombang baru yang berbeda dengan mainstream. Gelombang itu yang pertama  adalah secara dhohir, dari segi  dari penampilan. Mereka mengedepankan identitas dengan berjenggot, tidak suka memakai sarung, batik  dan tidak mau memakai peci hitam. Mereka lebih memilih pakai topi dan  celana jeans. Kedua,secara ajaran. Tidak berlandaskan Ahlusunnah wal Jamaah. Ketiga adalah pada ideologi yaitu khilafah. Dan hijrah yang mereka sasar bukan para orang tua atau generasi old yang mereka sasar adalah para generasi muda terutama kaum milenial. Hal ini disebabkan karena mereka lebih percaya diri untuk berkomunikasi menyampaikan ideologinya pada anak muda, tidak kepada orang tua. “Karenanya, dalam bermedsos kita harus berhati-hati, karena di medsos semua ada, maka kita harus punya filter sendiri,” jelas Kiai Nashif. Acara Cafe Aswaja Milenial yang berlangsung selama hampir tiga jam itu juga diwarnai dengan berbagai pertanyaan menarik yang disampaikan oleh para peserta. Setidaknya ada lima penanya yang tidak hanya menyampaikan pertanyaan saja, namun juga memberikan berbagai masukan baik kepada pihak sekolah dalam hal ini para guru dan Kepala Sekolah. Masukan juga disampaikan kepada pengelola Majelis Taklim Kanzul Ilmi Center agar bisa lebih memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang berbagai cara untuk menangkal pergerakan salah kaprah hijrah di kalangan generasi milenial. Acara diakhiri dengan harapan bahwa acara Cafe Aswaja Millenial dapat terus diselenggarakan dan menyasar kepada lebih banyak generasi muda di wilayah Brebes. 

(Lili/Fathoni)

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/104140/cafe-aswaja-untuk-generasi-milenial-di-brebes


Share:

27 February 2019

PELUANG DAN TANTANGAN NU DI ERA DIGITAL

         Peringatan hari lahir ke-93 NU pada tanggal 31 Januari 2019 berlangsung meriah. Ini merupakan tanda syukur bahwa dalam usianya yang menjelang 100 tahun, peran-peran yang dilakukan NU kepada bangsa dan umat dalam berbagai persoalan terus dapat dijalankan. Dalam usia 93 tahun ini, sekaligus kita berpikir bagaimana peran-peran NU di masa mendatang di era disrupsi digital dan revolusi industri 4.0. Perubahan teknologi menyebabkan perubahan perangkat untuk menjalankan banyak aktivitas kehidupan, yang mengubah lanskap cara-cara berdakwah dan melayani masyarakat.  Ceramah pada zaman dahulu selalu dilakukan dari panggung ke panggung. Kini pengajian dan ceramah bisa dilaksanakan dari rumah masing-masing, dengan siaran langsung melalui media sosial seperti Youtube, Facebook, Instagram, atau media sosial lainnya. Apa yang disampaikan secara langsung tersebar ke seluruh penjuru dunia. Sejumlah penceramah kondang yang muncul belakangan ini adalah mereka-mereka yang sebelumnya sukses mengembangkan dakwah di dunia digital. Mereka memiliki kemampuan berbicara yang baik sekalipun kemampuan agamanya belum tentu memadai. Beberapa di antaranya terpaksa minta maaf kepada publik karena melakukan kesalahan dalam menafsirkan Al-Qur’an seperti adanya pesta seks di surga atau pernyataan bahwa Nabi Muhammad pernah sesat.  Peluang ini yang juga harus dimanfaatkan oleh komunitas NU. Salah satu yang cukup berhasil adalah KH Musthofa Bisri. Apa yang ia lakukan harusnya menjadi inspirasi bagi generasi muda yang lahir di era digital bahwa usia tidak menghalangi pemanfaatan dakwah di ranah media sosial. Gus Mus adalah seorang pembelajar yang terus memanfaatkan keberadaan teknologi baru sebagai sarana berdakwah. Anak-anak muda NU harusnya lebih mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman dan teknologi karena merekalah yang hidup di zaman ini dan generasi mereka pulalah yang menjadi pengguna terbesar teknologi.

       Teknologi juga telah membuat konsolidasi organisasi menjadi lebih gampang. Komunikasi dan koordinasi yang sebelumnya susah dan memerlukan biaya mahal kini menjadi sangat gampang. Aplikasi WhatsApp (WA), Line, Telegram, Skype dan sejenisnya yang bisa diunduh secara gratis membantu mengoordinasikan berbagai kegiatan dengan gampang. Ada banyak sekali perangkat lunak untuk membantu berbagai kegiatan menjadi lebih mudah. Ketika teknologi telah tersedia dengan biaya murah, maka yang diperlukan adalah kapasitas menggunakannya dengan baik. Maka di sini, yang berlaku adalah kualitas sumber daya manusia. Prinsipnya adalah man behind the gun atau orang yang menggunakan senjata, bukan senjata itu sendiri. Betapapun canggihnya senjata, tentara yang memegangnya tidak kompeten, maka akan kalah dalam peperangan.  Banyak orang kini mengalami kecanduan internet. Mereka menghabiskan sebagian besar waktunya berselancar di internet sementara interaksi sosialnya di dunia nyata menjadi sangat berkurang. Hal ini kemudian menimbulkan depresi, kecemasan atau persoalan psikologis lainnya. Saat ongkos komunikasi hampir gratis, ternyata ada masalah lain yang muncul karena ketidakmampuan untuk mengelola secara tepat aktivitas di dunia maya. Berbagai persoalan yang sebelumnya yang menjadi konsumsi pribadi dikeluhkan di dunia maya.  Orang-orang mengejar popularitas di dunia maya dengan melakukan hal-hal yang kontroversial. Yang dulu menjadi tabu dalam masyarakat kini menjadi biasa dilakukan. Menghina orang lain dengan kata-kata kasar kini dengan gampang ditemui di media sosial. Remaja yang belajar agama hanya di internet membantah pendapat ulama bidang tertentu yang kompeten.  Penyebaran hoaks merupakan tantangan serius lainnya yang muncul dalam era digital. Berita bohong sudah ada sejak dahulu. Kini, hoaks bisa dengan gampang menyebar dari satu grup ke grup media sosial lainnya, diamplifikasi oleh tokoh tertentu sehingga menimbulkan kepanikan di masyarakat. Literasi digital yang rendah menyebabkan tidak ada upaya pengecekan informasi yang diterima sebelum disebarkan. Informasi yang sesuai dengan pendapatnya, hanya dengan ujung jari sudah menyebar ke mana-mana. Belum ada budaya malu di masyarakat bahwa dirinya telah menyebarkan berita bohong sehingga tidak kehati-hatian dalam menyebarkan informasi. Publik saat ini banyak membahas revolusi industi 4.0 yang mana peran-peran manusia dalam dunia kerja akan digantikan dengan otomatisasi mesin. Pekerjaan-pekerjaan kasar dan berulang akan digantikan dengan teknologi digital yang lebih akurat dan efisien. Tanpa terasa, sesungguhnya, banyak pekerjaan sudah tergantikan dengan mesin. Di pintu masuk tempat parkir, sudah jarang yang menempatkan penjaga untuk mencatat nomor kendaraan yang masuk. Pengunjung tinggal menekan tombol masuk untuk mendapatkan tiket. CCTV mengurangi kebutuhan penjaga keamanan. Perangkat lunak penerjemah otomatis atau perangkat lunak pengubah suara dari teks juga ada. Itu merupakan bagian-bagian kecil inovasi yang terus tumbuh dan terakumulasi. 

       Para inovator di seluruh dunia melalui perusahaan-perusahaan rintisan saling bersaing menemukan hal-hal baru yang ditawarkan kepada masyarakat. Temuan baru yang sangat canggih dalam dua atau tiga tahun kemudian sudah dianggap usang karena kecepatan inovasi tersebut. Semua pihak berusaha saling mengantisipasi perubahan atau menciptakan trend baru, menciptakan aturan baru untuk memenangkan persaingan. Situasi seperti ini biasa disebut volatility, uncertainty, complexity, and ambiguity (VUCA) atau volatilitas, ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas. Jika para inovator harus selalu berpikir keras agar selalu kompetitif terhadap para pesaingnya, bagaimana nasib buruh tani dan petani kecil di daerah-daerah pedesaan. Pengetahuan, akses informasi, dan ketrampilan yang dimiliki terbatas. Tanpa disadari, mereka sesungguhnya korban paling besar dari perubahan dahsyat ini. Saat ini para pedagang konvensional, baik yang berskala besar atau kecil, yang menjajakan dagangannya melalui toko-toko sudah banyak bertumbangan berhadapan dengan mereka yang berjualan di dunia maya. Para petani sejak lama telah termarginalkan dan semakin susah untuk mengatasi persoalan ini tanpa upaya luar biasa dari banyak pihak.  Menyiapkan diri warga NU dalam menghadapi perubahan teknologi dan revolusi digital yang memberi banyak kemudahan tetapi sekaligus mengancam peran-peran kemanusiaan inilah tantangan yang harus dipikirkan oleh NU. Bagaimana menumbuhkan literasi digital dan menyiapkan jutaan petani, buruh, dan kelompok masyarakat yang terpinggirkan menghadapi perubahan yang semakin meminimalisasi peran-peran mereka. Nasib jutaan orang, tergantung pada apa yang kita lakukan hari ini. Inilah peluang sekaligus tantangan NU yang harus kita siapkan hari ini agar dapat terus berperan di masa mendatang. (Achmad Mukafi Niam)

Share:

03 January 2019

PROFIL RANTING NU KALILANGKAP

Berikut kami tampilkan profil Ranting NU Kalilangkap Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes









Share:

27 October 2018

GP ANSOR DAN BANSER BUMIAYU 26/10/2018

Pengajian dan pertemuan rutin GP ANSOR PAC Bumiayu diisi dengan Tausyiyah Kyai Shofiyulloh Mukhlas pada  Jum'at Wage,26 Oktober 2018 di Gedung MWC Bumiayu:








( foto dari kiriman Sahabat Rosikun via WAG 06:27, 10/27/2018] +62 858-6748-4xxx).


Share:

31 July 2018

APEL AKBAR_SILATDA ALUMNI PKPNU KAB BREBES_2


Threaler Silatda Alumni PKPNU Kabupaten Brebes, 29 Juli 2018 di Lembah Parasi karangpari Bantarkawung

Share:

02 January 2018

PKPNU ADISANA

 PKPNU Angkatan  5 di SMP Salafiyah Adisana 29,30,31 Desember 2017









Share:

Pengunjung

Asal Negara

Flag Counter

Blog Archive