• Gedung NU

    Pembangunan Gedung NU Ranting Kalilangkap direalisasikan.

  • MUSRAN NU Kalilangkap 2018

    Musyawarah Ranting ( Musran ) Nahdlatul Ulama Desa Kalilangkap untuk kepengurusan ranting NU masa khidmat 2018-2023 telah laksanakan hari ini Rabu tanggal 27 syawal 1439 H / 11 Juli 2018 H. bertempat di Gedung Lantai 2 SMP Ma’arif NU 01 Bumiayu.

  • BINTEK KARTANU

    Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Brebes mengadakan Bintek dan melaunching Sistem Informasi Strategis Nahdlatu Ulama (Sisnu) sekaligus Kartu Anggota Nahdlatul Ulama (KARTANU) wilayah Brebes Selatan.

  • Kajian Rutin Malam Kamis

    Kegiatan kajian rutin kitab kuning, kitab Riyadusholihin pengurus ranting NU Kalilangkap

  • Slide5

    Maulid Nabi 2017

  • Slide6

    Pengurus Muslimat dan fatayat NU Kalilangkap

  • Slide 7

    Khitanan Massal ranting NU Kalilangkap 2017

  • Slide 8

    Pembangunan Gedung NU ranting NU Kalilangkap

  • Slide 9

    Maulid Nabi tahun 2019

  • Slide 10

    Peletakan batu pertama pembangunan gedung NU

  • Maulid Nabi Muhammad Saw dan Khitanan Massal 2015

    Pengajian Maulid nabi Muhammad SAW dan Khitanan Massal pada hari kamis 25 Desember 2015, oleh Ranting NU, Muslimat NU, Fatayat NUdan GP Ansor berlangsung di KAR Legok.

Assalamualaikum Wr.Wb.

SELAMAT ATAS MUSRAN NU KALILANGKAP MASA KHIDMAT 2023-2028.....MEDIA INFORMASI DAN DOKUMENTASI KEGIATAN RANTING NU DAN BADAN OTONOM RANTING KALILANGKAP
Showing posts with label nu. Show all posts
Showing posts with label nu. Show all posts

08 October 2022

PERATURAN PERKUMPULAN NAHDLATUL ULAMA TAHUN 2022

Berikut kami bagikan 19 Peraturan Perkumpulan (Perkum) Nahdlatul Ulama ( dulu disebut PO=Peraturan Organisasi), hasil Konbes tahun 2022.

Perkum Nomor 01 tahun 2022 tentang TATA CARA PENERIMAAN DAN PEMBERHENTIAN

KEANGGOTAAN

Perkum Nomor 02 tahun 2022 tentang SISTEM KADERISASI

Perkum Nomor 03 tahun 2022 tentang SYARAT MENJADI PENGURUS

Perkum Nomor 04 tahun 2022  tentang WEWENANG, TUGAS POKOK DAN FUNGSI PENGURUS

Perkum Nomor 05 tahun 2022 tentang PEMBENTUKAN KEPENGURUSAN BARU

Perkum Nomor 06 tahun 2022 tentang TATA CARA PENGESAHAN DAN PEMBEKUAN KEPENGURUSAN

Perkum Nomor 07 tahun 2022 tentang PERANGKAT PERKUMPULAN

Perkum Nomor 08 tahun 2022 tentang BADAN KHUSUS

Perkum Nomor 09 tahun 2022 tentang PERMUSYAWARATAN

Perkum Nomor 10 tahun 2022 tentang TATA CARA RAPAT

Perkum Nomor 11 tahun 2022 tentang KLASIFIKASI STRUKTUR DAN PENGUKURAN KINERJA

Perkum Nomor 12 tahun 2022 tentang RANGKAP JABATAN

Perkum Nomor 13 tahun 2022 tentang TATA CARA PERGANTIAN PENGURUS ANTAR WAKTU DAN PELIMPAHAN FUNGSI JABATAN

Perkum Nomor 14 tahun 2022 tentang PENYELENGGARAAN KERJA SAMA

Perkum Nomor 15 tahun 2022 tentang PEDOMAN ADMINISTRASI

Perkum Nomor 16 tahun 2022 tentang PEDOMAN SPESIFIKASI DAN PENGGUNAAN LAMBANG

Perkum Nomor 17 tahun 2022 tentang JENIS DAN PENGELOLAAN REKENING

Perkum Nomor 18 tahun 2022 tentang TATA CARA PEMBAYARAN

Perkum Nomor 19 tahun 2022 tentang LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN

DAN LAPORAN PERKEMBANGAN PERKUMPULAN

Buku Peraturan Perkumpulan Nahdlatul Ulama Keputusan Konbes NU tahun 2022)

Share:

27 February 2021

HARLAH NU KE 98_ 16 RAJAB 1442 H



LOGO RESMI HARLAH KE-98

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan menyelenggarakan istighatshah dan tahlil akbar untuk memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-98 NU, pada 16 Rajab 1442 Hijriyah yang bertepatan dengan 27 Februari 2021. 

Agenda harlah ke-98 NU Ketua Panitia Pelaksana Harlah ke-98 NU KH Mochammad Bukhori Muslim menjelaskan bahwa agenda harlah berdasarkan hitungan penanggalan Hijriyah ini merupakan rangkaian dari peringatan harlah berdasarkan penanggalan masehi, pada akhir Januari lalu.

"Nah, puncaknya memang nanti ke-98 tanggal 27 Februari malam. Jadi malamnya kan memang sudah masuk tanggal 16 Rajab. Itu kita adakan dzikir bersama dan tahlil akbar. Intinya untuk keselamatan dan kedamaian negeri," ungkapnya.   "Tentunya tidak lain kita doakan para pendiri NU seperti Hadlratussyekh KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, dan para pendiri-pendiri NU di masa awal-awal," imbuh Kiai Bukhori.

Agenda puncak harlah NU itu akan dilangsungkan secara daring dan luring. Kiai Bukhori menuturkan sedang melakukan koordinasi dengan pengelola Masjid Istiqlal Jakarta. Namun demikian, ia menegaskan, acara yang dilakukan secara luring dilaksanakan dengan sangat terbatas.   Kiai Bukhori membatasi peserta atau jamaah yang hadir di Masjid Istiqlal nanti tidak lebih dari 200 orang dan harus menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat. Sementara itu, ia menerangkan bahwa Masjid Istiqlal berkapasitas 35 ribu orang.    "Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan beberapa kiai akan hadir secara offline di Istiqlal. Tapi para masyayikh yang sudah sepuh itu kebanyakan pakai zoom. Jadi ada 2, luring dan daring," jelas Sekretaris Lembaga Dakwah (LD) PBNU ini.   Para kiai yang rencananya akan hadir secara virtual di antaranya adalah Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), KH Agoes Ali Masyhuri dari Sidoarjo.   "Bahkan insyallah kita akan undang Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin melalui aplikasi zoom juga. Kita sedang koordinasi dengan Wapres. Kita rencananya juga akan menghadirkan Gus Baha (Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Bahauddin Nursalim), dan Gus Miftah (Pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji Yogyakarta)," ungkap Kiai Bukhori.   Ia beralasan, agenda puncak peringatan Harlah NU yang juga dilangsungkan secara virtual untuk para kiai sepuh itu bertujuan untuk menjaga agar tidak tertular virus Covid-19. Namun tidak sama sekali mengurangi warga Nahdliyin untuk mencari ilmu dari para kiai sepuh.   "Jadi agenda Harlah ke-98 NU ini dirangkai dengan yang ke-95 karena agak berdekatan. Tanggal 31 Januari dirangkai banyak kegiatan. Kemarin sudah banyak istighatsah dan ada konser amal," katanya.   Bahkan, ia melanjutkan, masing-masing lembaga dan badan otonom NU juga mengadakan berbagai kegiatan yang dirangkaikan dengan Harlah NU ke-95 dan ke-98. Lembaga Takmir Masjid (LTM) NU misalnya, yang melaksanakan kegiatan Bersih-Bersih Masjid (BBM) sebagai rangkaian peringatan Harlah NU.    "Kemudian ada juga penggalangan dana oleh LAZISNU. Lalu ada penanggulangan bencana. Jadi semua kegiatan-kegiatan itu dilaksanakan dalam rangkaian Harlah NU," pungkas Kiai Bukhori.

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/126847/ini-makna-dan-filosofi-logo-harlah-ke-98-nu

Share:

20 June 2020

MAARIF NU AJAK KEPALA SEKOLAH MATANGKAN EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN JARAK JAUH

Untuk terus memaksimalkan efektivitas pembelajaran jarak jauh di masa pandemi Covid-19, LP Ma’arif NU menyelenggarakan pelatihan pembelajaran jarak jauh. Pelatihan ini diikuti seratus kepala sekolah SD/MI seluruh Indonesia. Pelatihan tersebut dikhususkan untuk kepala sekolah dan madrasah yang berada di lingkungan LP Ma’arif NU seluruh Indonesia, Selasa (16/6) siang.   Ketua LP Ma’arif PBNU H Arifin Junaidi mengatakan dengan kondisi daerah di Indonesia yang berbeda-beda, pembelajaran jarak jauh atau daring dapat dilakukan dengan empat pola. Pembelajaran pola pertama menurutnya, banyak daring dari pada tatap muka yang berlaku di daerah dengan jaringan internet kuat.   Pembelajaran kedua lebih banyak tatap muka daripada daring yang berlaku di daerah belum terhubung jaringan internet atau internet belum stabil. Sedangkan pola ketiga, pembelajaran daring dan tatap muka dalam porsi yang sama, dimana harus di topang jaringan internet yang cukup kuat.   "Untuk pola keempat adalah sedikit daring dan sedikit tatap muka tetapi kita tidak tahu apakah bisa diterapkan dalam pelaksanaanya atau tidak, melihat target kurikulum yang harus dicapai," jelasnya.   Arifin Junaidi juga menyebutkan pelatihan penguatan pembelajaran jarak jauh via zoom rencananya juga akan diselenggarakan dengan kepala SLTP/MTs dan SMA/SMK/MA di lingkungan LP Ma'arif NU.   Plt Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Hasan Chabibi menyebutkan dukungannya terhadap pelatihan yang dilakukan LP Ma’arif NU.   "Semua sekolah dan madrasah sekarang ini perlu merancang pembelajaran online yang efektif untuk menyambut kebijakan new normal. Selain itu, juga tolong diperhatikan aspek dan kondisi masing-masing daerah dalam penentuan pembelajaran ini," kata Hasan Chabibi.  

Selama pandemi Mendikbud melakukan survei perkembangan proses belajar siswa yang dilakukan di rumah dengan memberikan bermacam-macam tugas. Dari tugas-tugas tersebut, kata dia, hasil survei urutan pertama siswa lebih banyak mengerjakan soal-soal dari guru, dan urutan kedua belajar interaktif bersama guru secara daring.   "Urutan ketiga siswa belajar dari aplikasi seperti ruang guru; dan urutan keempat dan seterusnya antara lain kegiatan praktik, belajar dari sumber digital, belajar dari buku-buku non-teks pelajaran, belajar dari TV, belajar dari radio, dan lainnya," jelasnya.   Ia menambahkan dari hasil survei Mendikbud tersebut bisa menjadi gambaran para guru pengampu pelajaran. Ia menyarankan kepada guru-guru untuk diimbangi dengan perhatian, motivasi, dan dukungan kepada siswa-siswi.



Sumber: 
https://www.nu.or.id/post/read/120950/maarif-nu-ajak-kepala-sekolah-matangkan-efektivitas-pembelajaran-jarak-jauh
Share:

31 March 2020

ALBUM SENI SHOLAWAT PUJIAN

Berikut kami persembahkan beberapa sholawat nabi dan pujian yang biasa dibacakan oleh warga NU:

1.  YA LAL WATHON RANTING KALILANGKAP

2. PUJIAN KH. WASROH ABD WAHID

3. PUJIAN KYAI SURIF ABD KARIM

4. SHOLAWAT NAHDLIYAH

5. YEL-YEL PKPNU

6. KUMPULAN 5 SHOLAWAT NABI
Share:

30 January 2020

KISAH KH AS'AD SYAMSUL ARIFIN: BERDIRINYA NU 1926

Kisah tentang awal mula berdirinya Jamiyyah Nahdlatul Ulama (NU) diceritakan oleh Kyai haji As'ad Syamsul Arifin ( dengan bahasa daerah Situbondo. Monggo disimak di link VIDEO berikut ini.


Atau link di bawah ini

 KH As''ad Syamsul Arifin mengisahkan Sejarah berdiri NU





Share:

22 October 2019

HARI SANTRI NASIONAL 2019

Hari Santri Nasional ditetapkan setiap tanggal 22 Oktober. Berikut kami bagikan beberapa artikel berkaitan dengan Hari Santri Nasional:


Resolusi Jihad NU dan Perang Empat Hari di Surabaya
Oleh K Ng H Agus Sunyoto  
Hari ini 71 tahun silam, tepatnya tanggal 22 Oktober 1945, terjadi peristiwa penting yang merupakan rangkaian sejarah perjuangan Bangsa Indonesia melawan kolonialisme. Dikatakan penting, karena hari ini, 71 tahun silam, PBNU yang mengundang konsul-konsul NU di seluruh Jawa dan Madura yang hadir pada tanggal 21 Oktober 1945 di kantor PB ANO (Ansor Nahdlatul Oelama) di Jl. Bubutan VI/2 Surabaya, berdasar amanat berupa pokok-pokok kaidah tentang kewajiban umat Islam dalam jihad mempertahankan tanah air dan bangsanya yang disampaikan Rais Akbar KH Hasyim Asy’ari, dalam rapat PBNU yang dipimpin Ketua Besar KH Abdul Wahab Hasbullah, menetapkan satu keputusan dalam bentuk resolusi yang diberi nama “Resolusi Jihad Fii Sabilillah”, yang isinya sebagai berikut:   “Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe Fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itu djadi fardloe kifajah (jang tjoekoep, kalaoe dikerdjakan sebagian sadja)…”    Dalam tempo singkat, Surabaya guncang oleh kabar seruan jihad dari PBNU ini. Dari masjid ke masjid dan dari musholla ke musholla tersiar seruan jihad yang dengan sukacita disambut penduduk Surabaya yang sepanjang bulan September sampai Oktober telah meraih kemenangan dalam pertempuran melawan sisa-sisa tentara Jepang yang menolak tunduk kepada arek-arek Surabaya. Demikianlah, sejak dimaklumkan tanggal 22 Oktober 1945, Resolusi Jihad membakar semangat seluruh lapisan rakyat hingga pemimpin di Jawa Timur terutama di Surabaya, sehingga dengan tegas mereka berani menolak kehadiran Sekutu yang sudah mendapat ijin dari pemerintah pusat di Jakarta.   Sesungguhnya, saat Resolusi Jihad dikumandangkan oleh PBNU, Perang Dunia II sudah selesai karena Jepang sudah takluk sejak 15 Agustus 1945. Kedatangan balatentara Inggris ke Jakarta, Semarang, Surabaya adalah dalam rangka penyelesaian masalah interniran dan tawanan perang Jepang, yang di dalam prosesnya ditandai oleh maraknya isu kembalinya pemerintah Kolonial Belanda ke Indonesia dengan membonceng balatentara Inggris. Sementara pada pekan kedua Oktober 1945, Presiden Soekarno mengirim utusan khusus ke Pesantren Tebuireng, menemui KH Hasyim Asy’ari, untuk meminta petunjuk dan arahan guna memecahkan kegundahan hati presiden.   Pasalnya, sampai bulan Oktober ini, belum ada satu pun Negara di dunia yang mengakui kemerdekaan Indonesia dan mengakui Negara Indonesia, akibat usaha-usaha pemerintah Belanda yang menyebarkan berita provokatif ke seluruh dunia bahwa Republik Indonesia yang dipimpin Soekarno dan Hatta, adalah Negara boneka bikinan Fasisme Jepang. Bagaimana meyakinkan dunia bahwa Republik Indonesia bukan negara boneka bikinan Fasisme Jepang, melainkan Negara Kebangsaan (Nation State) yang didukung rakyat seluruhnya.    Seruan Resolusi jihad yang dikumandangkan PBNU dalam keadaan perang sudah berakhir lebih sebulan silam, dinilai sebagian elit pemimpin Negara di Jakarta sebagai mengada-ada. Bahkan sehari sesudah Resolusi Jihad diserukan, sepanjang hari sejak pagi tanggal 24 Oktober 1945, Bung Tomo melalui pidatonya menyampaikan pesan kepada arek-arek Surabaya agar jangan gampang berkompromi dengan Sekutu yang akan mendarat di Surabaya. Sebagai wartawan Bung Tomo sudah mendapat informasi bahwa pasukan Sekutu akan mendarat di Surabaya tanggal 25 Oktober 1945, sehingga tanggal 24 Oktober 1945 pagi, Bung Tomo sudah berpidato mengobarkan semangat rakyat Suranaya, dengan isi pidato sebagai berikut:   “Kita ekstrimis dan rakyat, sekarang tidak percaya lagi pada ucapan-ucapan manis. Kita tidak percaya setiap gerakan (yang mereka lakukan) selama kemerdekaan Republik tetap tidak diakui! Kita akan menembak, kita akan mengalirkan darah siapa pun yang merintangi jalan kita! Kalau kita tidak diberi Kemerdekaan sepenuhnya, kita akan menghancurkan gedung-gedung dan pabrik-pabrik imperialis dengan granat tangan dan dinamit yang kita miliki, dan kita akan memberikan tanda revolusi, merobek usus setiap makhluk hidup yang berusaha menjajah kita kembali!”   “Ribuan rakyat yang kelaparan, telanjang, dan dihina oleh kolonialis, akan menjalankan revolusi ini. Kita kaum ekstrimis, kita yang memberontak dengan penuh semangat revolusi, bersama dengan rakyat Indonesia, yang pernah ditindas oleh penjajahan, lebih senang melihat Indonesia banjir darah dan tenggelam ke dasar samudera daripada dijajah sekali lagi! Tuhan akan melindungi kita! Merdeka! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!”   Suasana panas yang membakar semangat penduduk Kota Surabaya akibat pengaruh Resolusi Jihad dan pidato yang disampaikan Bung Tomo, makin memuncak sewaktu kapal perang Inggris HMS Wavenley menurunkan pasukan di dermaga Modderlust Surabaya pada 25 Oktober 1945. Karena tokoh-tokoh Surabaya menolak penurunan pasukan Inggris ke Surabaya, maka pihak Inggris mengirim Captain Mac Donald dan Pembantu Letnan Gordon Smith untuk menemui Gubernur. Bersandarnya HMS Wavenley sendiri pada dasarnya merupakan hasil perundingan yang sulit, karena sehari sebelumnya, tanggal 24 Oktober 1945, sewaktu diadakan perundingan di Modderlust antara utusan Sekutu yang diwakili Colonel Carwood dan pihak TKRL yang diwakili Oemar Said, J.Soelamet, Hermawan, dan Nizam Zachman terjadi jalan buntu. Semua permintaan Sekutu ditolak.    Pidato Bung Tomo dan jalan buntu perundingan sekutu dengan TKRL masih ditambah dengan pidato Drg Moestopo pada malam hari jam 20.00, yang menyatakan diri sebagai Menhan RI yang tegas-tegas menolak Sekutu untuk mendaratkan pasukan dan bahkan menyebut Sekutu sebagai NICA. Sekutu yang dari laporan intelijennya mengetahui bahwa Drg Moestopo adalah seorang dokter gigi yang aktif sebagai perwira PETA, membalas pidato lewat pemancar radio dari kapal yang isinya,”We don’t take any order from anybody, we don’t have the command of a dental surgeon!” Jawaban Inggris yang bernada humor itu, menunjuk bahwa pihak Inggris tidak sedikit pun memiliki bayangan bahwa mereka akan menghadapi pertempuran di Surabaya.   Bahkan pidato Bung Tomo, ketegasan TKRL menolak permintaan Sekutu untuk mendaratkan pasukan, tindakan Drg Moestopo yang juga melarang Sekutu mendaratkan pasukan, dianggap aneh oleh hampir seluruh pemimpin di Jakarta, sebab tindakan itu dinilai tidak sesuai dengan kebijakan pemerintah pusat di Jakarta dan potensial menyulut konflik berdarah baru. Itu sebabnya pemerintah mengirim Mr Soedarpo, Mr. Kasman Singodimedjo dan Mr. Sartono untuk memberitahu Drg Moestopo agar bersedia membiarkan Sekutu menjalankan tugasnya. Namun Drg Moestopo tidak sedikit pun mengikuti petunjuk dari para pejabat tinggi Negara itu. Sikap tegas Drg Moestopo baru melunak setelah pagi hari tanggal 25 Oktober 1945 ia ditelpon langsung oleh Presiden Soekarno dan diperintah agar tidak menembak Sekutu. Presiden Soekarno mengingatkan bahwa sebagai perwira mantan didikan PETA, Drg Moestopo harus patuh kepada presidennya.    Tanggal 25 Oktober 1945 itulah HMS Wavenley bersandar di dermaga Modderlust dan mengirim Captain Mac Donald dan Pembantu Letnan Gordon Smith untuk menemui Gubernur. Dengan siasat mengundang jamuan minum teh sambil berunding, Sekutu memanfaatkan kunjungan gubernur untuk melihat tawanan di Kalisosok dengan mendaratkan pasukan secara besar-besaran. Tindakan ini mengudang reaksi keras penduduk. Lalu diadakan perundingan antara Drg Moestopo dengan Kolonel Pugh. Hasilnya, pasukan Sekutu berhenti pada garis batas 800 meter dari pantai ke arah kota. Sekali pun pasukan sekutu berada di garis batas 800 meter dari pantai ke arah kota, namun pasukan yang diturunkan dari kapal jumlahnya sekitar 2800 personil dari Brigade ke-349 Mahratta yang dilengkapi dengan persenjataan perang modern.   Tindakan para pemimpin dan rakyat Jawa Timur untuk tegas menolak pendaratan pasukan Sekutu yang menjalankan tugas mengurusi interniran dan tawanan perang Jepang yang terlihat dari pidato Bung Tomo, Pidato Drg Moestopo dan sikap TKRL yang mengejutkan para pemimpin di Jakarta dalam kaitan dengan Resolusi Jihad yang dikumandangkan PBNU, tidak banyak diungkap dalam kajian sejarah modern di sekolah. Namun dengan memahami situasi dan kondisi waktu itu berdasar kesaksian para pelaku sejarah – yang saat ini sudah banyak yang meninggal dunia – tidak bisa ditafsirkan lain kecuali akibat momentum sejarah yang terjadi saat itu yang mempengaruhi cara pandang dan keberhasilan pengobaran semangat rakyat dan pemimpin-pemimpin Jawa Timur oleh usaha sistematis untuk memicu pecahnya konflik besar. Dan momentum sejarah itu, tidak lain dan tidak bukan adalah dimaklumkannya Resolusi Jihad oleh PBNU tanggal 22 Oktober 1945.   Sementara itu, setelah mendaratkan pasukan Brigade ke-49 Mahratta dari HMS Wavenley, pagi hari tanggal 26 Oktober 1945 diadakan perundingan antara pihak RI yang diwakili oleh Wakil Gubernur Soedirman, Ketua KNI Doel Arnowo, Walikota Radjamin Nasution, dan wakil Drg Moestopo, Jenderal Mayor Muhammad dengan pihak Sekutu yang diwakili A.W.S. Mallaby beserta staf. Hasil perundingan, pasukan sekutu dalam menjalankan tugas mengevakuasi tawanan Jepang dan interniran Belanda diperbolehkan menggunakan beberapa bangunan di dalam kota. Markas Brigade ke-49 Mahratta ditetapkan di Jalan Kayoon. Namun persetujuan menggunakan beberapa bangunan itu digunakan secara curang, di mana Sekutu justru membangun pos-pos pertahanan yang menebar di berbagai tempat dari kawasan pantai hingga ke bagian tengah dan selatan kota. Di antara pos-pos pertahanan Sekutu yang diperkuat senapan mesin adalah yang di Benteng Miring, gedung sekolah al-Irsyad di Ampel, gedung Internatio, pabrik Palmboom, gedung Lindeteves, gedung Onderlingblang, jalan Gemblongan, sekolah HBS (SMA Kompleks Wijayakusuma-pen), Rumah Sakit Darmo, Gubeng, Dinoyo, pabrik Colibri, gudang BAT, Wonokromo, Don Bosco, dll.   Mendapati tindakan Sekutu membangun pos-pos pertahanan, Kolonel Jono Sewojo mendatangi Brigadir Jenderal A.W.S.Mallaby dan memprotes tindakan tidak jujur itu. Tapi dengan alasan untuk pertahanan diri dan melancarkan tugas-tugas yang dijalankan pasukan sekutu, pos-pos pertahanan memang penting dibuat. Kolonel Jono Sewojo yang perwira didikan PETA yang mengetahui bahwa pembangunan pos-pos pertahanan yang tersebar itu adalah bagian dari strategi pertahanan kota dengan tegas mengingatkan Mallaby tentang kemungkinan pecahnya pertempuran di Surabaya dengan keberadaan pos-pos pertahanan Sekutu itu. Ketika Mallaby bersikukuh dengan keputusannya untuk mempertahankan keberadaan pos-pos pertahanan itu, Kolonel Jono Sewojo dengan marah berdiri menunjuk muka Mallaby sambil berkata,”I remind you. If you shoot me, I shoot you back!”    Ternyata bukan hanya Kolonel Jono Sewojo selaku kepala staf TKR Jawa Timur yang marah terhadap tindakan Sekutu yang di luar kesepakatan dengan pihak RI telah membangun pos-pos pertahanan , arek-arek Surabaya terutama para pemuda Islam yang terbakar seruan jihad fi sabilillah sangat marah. Kasak-kusuk menyebar bahwa pos-pos pertahanan yang dibangun Sekutu itu sebagai usaha untuk penjajah Inggris untuk memperkuat kembali kekuasaan kolonial Belanda dengan menggunakan bantuan pasukan Sekutu. Tanpa ada yang mengomando, sejak sore hari ratusan santri keluar pondok bersama pemuda-pemuda kampung di kawasan utara Surabaya keluar ke jalanan menuju pos-pos pertahanan Sekutu. Sekitar jam 16.00 tanggal 26 Oktober 1945, tanpa ada yang mengomando, dengan didahului teriakan Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! beratus-ratus santri tua dan muda beserta pemuda-pemuda dari kampung-kampung di Surabaya utara seperti Ampel, Sukadana, Boto Putih, Pekulen, Pegirikan, Sawah Pulo dipimpin Ahyat Cholil, kader Anshoru Nahdlatul Oelama (ANO) yang aktif di Hisbullah, beramai-ramai menyerang pos pertahanan Sekutu di Benteng Miring di sebelah utara gedung sekolah Al-Irsyad.    Ketika iring-iringan santri dan pemuda dari berbagai kampung itu sudah berada di lapangan sekolah al-Irsyad yang membentang di depan gedung sekolah al-Irsyad, pasukan Sekutu melepas tembakan. Puluhan orang tumbang dengan tubuh bersimbah darah. Namun diselingi teriakan Allahu Akbar! yang sambung-menyambung, beratus-ratus santri dan pemuda kampung itu terus menyerbu sambil mengacungkan bambu runcing, clurit, keris, tombak, samurai, dan senapan rampasan. Lalu seiring berhembusnya kabar tentang gugurnya sejumlah santri dan pemuda akibat ditembaki Sekutu, penduduk kampung beramai-ramai keluar dengan membawa aneka macam senjata. Dalam tempo singkat, gedung sekolah Al-Irsyad yang dijadikan markas tentara Brigade 49 Mahratta yang disebut penduduk sebagai “Gurkha” itu dikepung ribuan penduduk. Tembak-menembak berlangsung sampai malam hari. Santri dan pemuda yang tidak membawa senjata membalas tembakan tentara “Gurkha” dengan lemparan batu.   Di tengah hiruk tembak-menembak di Sekolah Al-Irsyad yang terkepung, diam-diam satu peleton pasukan Sekutu yang dipimpin Kapten Shaw dari pangkalan Inggris di Ujung menerobos masuk ke Reineer Boulevard. Pasukan ini adalah pasukan elit Inggris yang berusaha membebaskan Kapten Huijer, Kapten Groom dan Mayor Finley yang ditawan TKR sejak mereka tertangkap di Kertosono. Terjadi tembak-menembak antara pasukan Sekutu ini dengan para pengawal tawanan. Penduduk kampung Surabaya yang sudah siaga perang, begitu mendengar letusan senjata langsung berbondong-bondong ke Reineer Boulevard dan menyerang pasukan Sekutu. Dalam waktu singkat truk dan jep yang dinaiki pasukan Sekutu dibakar. Kapten Shaw dan prajuritnya lari tunggang-langgang dan dengan sisa kendaraannya pergi menuju pelabuhan. Beberapa orang di antara prajurit Sekutu tertembak tetapi berhasil diangkut ke kapal yang bersandar di pelabuhan.    Arek-arek Surabaya yang rata-rata memiliki keahlian di bidang teknik dan perbengkelan mengetahui bahwa pertempuran melawan Sekutu tidak akan terhindarkan meski pihak penduduk kalah persenjataan. Itu sebabnya, sejak sore hari arek-arek Surabaya sudah bergerak sendiri dengan inisiatif sendiri-sendiri untuk memadamkan listrik kota, memutus jaringan telepon, menutup saluran air ledeng, dan menghentikan pasokan gas dalam kota. Menurut Mayor Jenderal Soengkono panglima pertempuran Surabaya yang mencatat bahwa tanggal 26 Oktober 1945 itu ditandai pecahnya pertempuran awal di Surabaya utara, yang membuat seluruh kota tenggelam dalam kegelapan malam yang tanpa lampu, tanpa air minum, tanpa telepon, tanpa gas, bahkan tanpa pasokan makanan karena seluruh jalanan kota sudah tertutup barikade-barikade yang dibikin penduduk.   Pagi hari tanggal 27 Oktober 1945 kota Surabaya gemetar diguncang kemarahan, sebab di tengah beredarnya kabar gugurnya santri dan pemuda yang mengepung pos pertahanan Sekutu di Sekolah Al-Irsyad beredar pula kabar bahwa Sekutu diam-diam mendaratkan lebih banyak pasukan ke Surabaya untuk memperkuat pos-pos pertahanannya. Penyerangan penduduk kampung terhasdap pos pertahanan di sekolah Al-Irsyad ditangkap pihak Sekutu sebagai tengara bakal pecahnya pertempuran dalam skala yang lebih besar. Itu sebabnya bala bantuan didatangkan untuk memperkuat pos-pos pertahanan yang tersebar di sejumlah kawasan strategis kota Surabaya. Dan warga kampung mulai memasang barikade-barikade di gerbang masuk kampungnya dengan kayu, bambu, drum, meja, kursi, ban, gedek, kawat, dll.   Kira-kira jam 09.00 di atas langit Surabaya melayang-layang pesawat militer jenis Dakota dari Jakarta menebarkan ribuan selebaran yang ditanda-tangani Mayor Jenderal D.C.Hawthorn yang berisi perintah kepada penduduk Surabaya untuk menyerahkan segala persenjataan dan peralatan Jepang kepada Sekutu. Perintah itu disertai ancaman, bahwa apabila masih ada orang membawa senjata akan langsung ditembak di tempat. Tentang peristiwa pesawat Dakota yang menyebarkan selebaran berisi ancaman itu, Christopher Bayiy dan Tim Harper dalam Forgotten Wars, the end of Brittain’s Asian Empire, mengungkapnya sebagai berikut: “On 27 September, there was an ill-advised airdrop of leaflets, demanding that the Indonesians surrender their arms within forty-eight hours or be shot. This was made without Mallaby's knowledge, and in contravention of local agreement, but it now had to be enforce. This was seen by the Indonesians as base of threachery. There were now convinced that the British were preparing to reoccupy the city for the Dutch."    Ancaman Sekutu yang ditanda-tangani Mayor Jenderal D.G.Hawthorn itu disambut caci-maki dan tantangan oleh penduduk Surabaya. Suasana makin tegang. Di tengah ketegangan itu, tiba-tiba muncul kelompok-kelompok pasukan Brigade 49 Mahratta bergerak ke jalan raya utama Surabaya, melewati kantor Gubernuran sambil menempelkan selebaran-selebaran sepanjang jalan yang mereka lewati. Tindakan pasukan Inggris-India ini menyulut amarah para pemimpin dan seluruh penduduk Surabaya. Kira-kira jam 12.00 pecah pertempuran di depan Rumah Sakit Darmo yang dalam sekejap diikuti pertempuran di semua pos pertahanan Inggris di Keputran, Kayoon, Gubeng, Simpang, Ketabang, Kompleks HBS, Gemblongan, Dinoyo, Wonokromo, Palmboom, Lindeteves, Onderlingbelang, Benteng Miring.   Sebagaimana pertempuran sehari sebelumnya, perang “keroyokan” itu murni perkelahian missal yang disebut tawuran, di mana tidak ada pemimpin dan tidak ada taktik maupun strategi apa pun yang ditunjukkan penduduk. Tentara Inggris Brigade ke-49 Mahratta yang sudah berpengalaman di medan tempur Burma dan bahkan el-Alamein di Mesir itu, kebingungan menghadapi pertempuran dengan model tawuran dari kawanan orang-orang nekad yang tidak tahu mati.   Tanggal 28 Oktober 1945, TKR sebagai aparat pertahanan dan keamanan Negara yang harus tunduk dan patuh pada perintah pemerintah pusat di Jakarta, ternyata terprovokasi perlawanan arek-arek Surabaya, sehingga tanpa sadar ikut bertempur mengepung dan memburu tentara Inggris. Oleh karena sebagian besar TKR adalah didikan PETA, Heiho dan Hisbullah, jumlah tentara Inggris yang tewas pun dengan cepat bertambah. Brigadir Jenderal A.W.S.Mallaby yang menyaksikan pasukannya akan habis, buru-buru menghubungi atasannya: Jenderal Christison di Singapura. Mallaby minta agar dilakukan gencatan senjata, penghentian tembak-menembak. Tanggal 29 Oktober 1945, presiden Soekarno dan wakil presiden Moch. Hatta serta Menhan Amir Sjarifuddin datang ke Surabaya. Tanggal 30 Oktober 1945, gencatan senjata dicapai tetapi butuh sosialisasi karena komunikasi terbatas dengan akibat masih taksi tembak-menembak di berbagai tempat di Surabaya. Malangnya, sore hari dalam usaha sosialisasi gencatan senjata, Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby tewas digranat.   Inggris marah sekali mendapati jenderalnya tewas justru saat perang sudah selesai. Lebih marah lagi, yang menghancurkan pasukan Inggris beserta jenderalnya itu adalah inlander bodoh yang lemah dan terjajah ratusan tahun oleh Belanda. Begitulah, Mayor Jenderal E.C.Mansergh, pada 31 Oktober 1945 melontakan ultimatum agar rakyat Surabaya menyerahkan pembunuh Mallaby dan semua orang-orang liar yang bersenjata menyerahkan senjata kepada pasukan Inggris. Jika ultimatum tidak dijalankan, maka pada 10 November 1945 jam 10.00 Kota Surabaya akan dibombardir dari darat, laut dan udara. Mayor Jenderal E.C.Mansergh menghitung, kota Surabaya akan jatuh dan takluk dalam tempo tiga hari.    Pertempuran besar di Surabaya pada 10 November 1945, yang menurut William H. Frederick (1989) sebagai pertempuran paling nekat dan destruktif -- yang tiga minggu di antaranya – sangat mengerikan jauh di luar yang dibayangkan pihak Sekutu maupun Indonesia. Dugaan Mayor Jenderal E.C.Mansergh bahwa kota Surabaya bakal jatuh dalam tiga hari meleset, karena arek-arek Surabaya baru mundur ke luar kota setelah bertempur 100 hari.    Sementara ditinjau dari kronologi kesejarahan, Pertempuran Surabaya pada dasarnya adalah kelanjutan dari peristiwa Perang Rakyat Empat Hari pada 26 – 27 – 28 – 29 Oktober 1945, yaitu sebuah Perang Kota antara Brigade ke-49 Mahratta di bawah komando Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby dengan arek-arek Surabaya yang berlangsung sangat brutal dan ganas, dengan kesudahan sekitar 2300 orang -- 2000 orang di antaranya pasukan Brigade ke-49 termasuk Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby yang terbunuh pada tanggal 30 Oktober 1945 – tewas dalam pertempuran man to man itu. Dan Perang Rakyat Empat hari pada 26-27-28-29 Oktober 1945 itu terjadi akibat adanya seruan Resolusi Jihad PBNU yang dikumandangkan pada tanggal 22 Oktober 1945.     K Ng H Agus Sunyoto, sejarawan, Ketua Lesbumi PBNU

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/72206/hari-santri-nasional-mengembalikan-sejarah-bangsa
Konten adalah milik dan hak cipta www.nu.or.id


Share:

09 April 2019

WIRID DAN DOA ISTIGHOSAH NU

1.


 2.


Share:

05 April 2019

SHALAWAT NAHDLIYYAH: Shalawat NU


Sholawat Nahdliyyah adalah shalawat yang diciptakan oleh KH Hasan Abdul Wafi. Shalawat ini merupakan rangkaian shalawat dan do'a kepada Allah, sekaligus menunjukkan tujuan daripada Nahdlatul Ulama yaitu meninggikan Kalimat Allah.
Baru-baru ini shalawat Nahdliyah menjadi kembali populer saat digema dalam acara Pelantikan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur di Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Jombang.

Berikut lirik shalawat Nahdliyah beserta terjemahannya:

اَللّٰÙ‡ُÙ…َّ صَÙ„ِّ عَÙ„َÙ‰ سَÙŠِّدِÙ†َا Ù…ُØ­َÙ…َّدْ
صَÙ„َاةً تُرَغِّبُ ÙˆَتُÙ†َØ´ِّØ·ُ
2x ÙˆَتُØ­َÙ…ِّسُ بِÙ‡َا الْجِÙ‡َادْ Ù„ِØ¥ِØ­ْÙŠَاءْ، ÙˆَØ¥ِعْÙ„َاءِ دِÙŠْÙ†ِ الْØ¥ِسْÙ„َامْ
2x ÙˆَØ¥ِظْÙ‡َارِ Ø´َعَائِرِÙ‡ْ عَÙ„َÙ‰ Ø·َرِÙŠْÙ‚َØ©ِ، جَÙ…ْعِÙŠَّØ©ِ Ù†َÙ‡ْضَØ©ِ الْعُÙ„َÙ…َاءْ
2x ÙˆَعَÙ„َÙ‰ آÙ„ِÙ‡ِ ÙˆَصَØ­ْبِÙ‡ِ ÙˆَسَÙ„ِّÙ…ْ
اَللّٰÙ‡ْ اَللّٰÙ‡ْ اَللّٰÙ‡ُ اَللّٰÙ‡ْ
Ø«َبِّتْ Ùˆَانْصُرْ Ø£َÙ‡ْÙ„َ جَÙ…ْعِÙŠَّØ©ْ
2x جَÙ…ْعِÙŠَّØ©ْ Ù†َÙ‡ْضَØ©ِ الْعُÙ„َÙ…َاءْ، Ù„ِØ¥ِعْÙ„َاءِ ÙƒَÙ„ِÙ…َØ©ِ اللّٰÙ‡ْ
Terjemahan :
“Ya Allah, limpahkan shalawat dan salam kepada Sayyidina Muhammad, keluarga dan para sahabatnya, yang dengan berkah bacaan shalawat ini, jadikanlah kami senang, rajin, dan semangat dalam berjuang menghidupkan dan meninggikan agama Islam serta menampakkan syi’ar-syi’arnya menurut cara Jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Ya Allah, teguhkanlah pendirian dan berikanlah kemenangan bagi warga Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (Nahdliyyin) untuk meninggikan Kalimatillah (agama Islam dan seluruh ajarannya)“.

Berikut Shalawat Nahdliyyah




Share:

27 February 2019

PELUANG DAN TANTANGAN NU DI ERA DIGITAL

         Peringatan hari lahir ke-93 NU pada tanggal 31 Januari 2019 berlangsung meriah. Ini merupakan tanda syukur bahwa dalam usianya yang menjelang 100 tahun, peran-peran yang dilakukan NU kepada bangsa dan umat dalam berbagai persoalan terus dapat dijalankan. Dalam usia 93 tahun ini, sekaligus kita berpikir bagaimana peran-peran NU di masa mendatang di era disrupsi digital dan revolusi industri 4.0. Perubahan teknologi menyebabkan perubahan perangkat untuk menjalankan banyak aktivitas kehidupan, yang mengubah lanskap cara-cara berdakwah dan melayani masyarakat.  Ceramah pada zaman dahulu selalu dilakukan dari panggung ke panggung. Kini pengajian dan ceramah bisa dilaksanakan dari rumah masing-masing, dengan siaran langsung melalui media sosial seperti Youtube, Facebook, Instagram, atau media sosial lainnya. Apa yang disampaikan secara langsung tersebar ke seluruh penjuru dunia. Sejumlah penceramah kondang yang muncul belakangan ini adalah mereka-mereka yang sebelumnya sukses mengembangkan dakwah di dunia digital. Mereka memiliki kemampuan berbicara yang baik sekalipun kemampuan agamanya belum tentu memadai. Beberapa di antaranya terpaksa minta maaf kepada publik karena melakukan kesalahan dalam menafsirkan Al-Qur’an seperti adanya pesta seks di surga atau pernyataan bahwa Nabi Muhammad pernah sesat.  Peluang ini yang juga harus dimanfaatkan oleh komunitas NU. Salah satu yang cukup berhasil adalah KH Musthofa Bisri. Apa yang ia lakukan harusnya menjadi inspirasi bagi generasi muda yang lahir di era digital bahwa usia tidak menghalangi pemanfaatan dakwah di ranah media sosial. Gus Mus adalah seorang pembelajar yang terus memanfaatkan keberadaan teknologi baru sebagai sarana berdakwah. Anak-anak muda NU harusnya lebih mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman dan teknologi karena merekalah yang hidup di zaman ini dan generasi mereka pulalah yang menjadi pengguna terbesar teknologi.

       Teknologi juga telah membuat konsolidasi organisasi menjadi lebih gampang. Komunikasi dan koordinasi yang sebelumnya susah dan memerlukan biaya mahal kini menjadi sangat gampang. Aplikasi WhatsApp (WA), Line, Telegram, Skype dan sejenisnya yang bisa diunduh secara gratis membantu mengoordinasikan berbagai kegiatan dengan gampang. Ada banyak sekali perangkat lunak untuk membantu berbagai kegiatan menjadi lebih mudah. Ketika teknologi telah tersedia dengan biaya murah, maka yang diperlukan adalah kapasitas menggunakannya dengan baik. Maka di sini, yang berlaku adalah kualitas sumber daya manusia. Prinsipnya adalah man behind the gun atau orang yang menggunakan senjata, bukan senjata itu sendiri. Betapapun canggihnya senjata, tentara yang memegangnya tidak kompeten, maka akan kalah dalam peperangan.  Banyak orang kini mengalami kecanduan internet. Mereka menghabiskan sebagian besar waktunya berselancar di internet sementara interaksi sosialnya di dunia nyata menjadi sangat berkurang. Hal ini kemudian menimbulkan depresi, kecemasan atau persoalan psikologis lainnya. Saat ongkos komunikasi hampir gratis, ternyata ada masalah lain yang muncul karena ketidakmampuan untuk mengelola secara tepat aktivitas di dunia maya. Berbagai persoalan yang sebelumnya yang menjadi konsumsi pribadi dikeluhkan di dunia maya.  Orang-orang mengejar popularitas di dunia maya dengan melakukan hal-hal yang kontroversial. Yang dulu menjadi tabu dalam masyarakat kini menjadi biasa dilakukan. Menghina orang lain dengan kata-kata kasar kini dengan gampang ditemui di media sosial. Remaja yang belajar agama hanya di internet membantah pendapat ulama bidang tertentu yang kompeten.  Penyebaran hoaks merupakan tantangan serius lainnya yang muncul dalam era digital. Berita bohong sudah ada sejak dahulu. Kini, hoaks bisa dengan gampang menyebar dari satu grup ke grup media sosial lainnya, diamplifikasi oleh tokoh tertentu sehingga menimbulkan kepanikan di masyarakat. Literasi digital yang rendah menyebabkan tidak ada upaya pengecekan informasi yang diterima sebelum disebarkan. Informasi yang sesuai dengan pendapatnya, hanya dengan ujung jari sudah menyebar ke mana-mana. Belum ada budaya malu di masyarakat bahwa dirinya telah menyebarkan berita bohong sehingga tidak kehati-hatian dalam menyebarkan informasi. Publik saat ini banyak membahas revolusi industi 4.0 yang mana peran-peran manusia dalam dunia kerja akan digantikan dengan otomatisasi mesin. Pekerjaan-pekerjaan kasar dan berulang akan digantikan dengan teknologi digital yang lebih akurat dan efisien. Tanpa terasa, sesungguhnya, banyak pekerjaan sudah tergantikan dengan mesin. Di pintu masuk tempat parkir, sudah jarang yang menempatkan penjaga untuk mencatat nomor kendaraan yang masuk. Pengunjung tinggal menekan tombol masuk untuk mendapatkan tiket. CCTV mengurangi kebutuhan penjaga keamanan. Perangkat lunak penerjemah otomatis atau perangkat lunak pengubah suara dari teks juga ada. Itu merupakan bagian-bagian kecil inovasi yang terus tumbuh dan terakumulasi. 

       Para inovator di seluruh dunia melalui perusahaan-perusahaan rintisan saling bersaing menemukan hal-hal baru yang ditawarkan kepada masyarakat. Temuan baru yang sangat canggih dalam dua atau tiga tahun kemudian sudah dianggap usang karena kecepatan inovasi tersebut. Semua pihak berusaha saling mengantisipasi perubahan atau menciptakan trend baru, menciptakan aturan baru untuk memenangkan persaingan. Situasi seperti ini biasa disebut volatility, uncertainty, complexity, and ambiguity (VUCA) atau volatilitas, ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas. Jika para inovator harus selalu berpikir keras agar selalu kompetitif terhadap para pesaingnya, bagaimana nasib buruh tani dan petani kecil di daerah-daerah pedesaan. Pengetahuan, akses informasi, dan ketrampilan yang dimiliki terbatas. Tanpa disadari, mereka sesungguhnya korban paling besar dari perubahan dahsyat ini. Saat ini para pedagang konvensional, baik yang berskala besar atau kecil, yang menjajakan dagangannya melalui toko-toko sudah banyak bertumbangan berhadapan dengan mereka yang berjualan di dunia maya. Para petani sejak lama telah termarginalkan dan semakin susah untuk mengatasi persoalan ini tanpa upaya luar biasa dari banyak pihak.  Menyiapkan diri warga NU dalam menghadapi perubahan teknologi dan revolusi digital yang memberi banyak kemudahan tetapi sekaligus mengancam peran-peran kemanusiaan inilah tantangan yang harus dipikirkan oleh NU. Bagaimana menumbuhkan literasi digital dan menyiapkan jutaan petani, buruh, dan kelompok masyarakat yang terpinggirkan menghadapi perubahan yang semakin meminimalisasi peran-peran mereka. Nasib jutaan orang, tergantung pada apa yang kita lakukan hari ini. Inilah peluang sekaligus tantangan NU yang harus kita siapkan hari ini agar dapat terus berperan di masa mendatang. (Achmad Mukafi Niam)

Share:

03 January 2019

PROFIL RANTING NU KALILANGKAP

Berikut kami tampilkan profil Ranting NU Kalilangkap Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes









Share:

27 October 2018

GP ANSOR DAN BANSER BUMIAYU 26/10/2018

Pengajian dan pertemuan rutin GP ANSOR PAC Bumiayu diisi dengan Tausyiyah Kyai Shofiyulloh Mukhlas pada  Jum'at Wage,26 Oktober 2018 di Gedung MWC Bumiayu:








( foto dari kiriman Sahabat Rosikun via WAG 06:27, 10/27/2018] +62 858-6748-4xxx).


Share:

03 December 2017

KUMPULAN ARTIKEL ILMIAH GUS NADIR

Berikut kami persembahkan beberapa artikel ilmiah dari Prof.Dr. H. Nadirsyah HosenRais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School. Juga Pengasuh PonPes Ma'had Aly Raudhatul Muhibbin, Caringin Bogor pimpinan DR KH M Luqman Hakim yang kami kutip dari Web beliau http://nadirhosen.net.
Semoga lima artikel ini bermanfaat bagi umat Islam dan khususnya  warga Nahdliyyin dan genersai muda NU supaya makin kokoh dan bangga dengan NU.

Untuk lebih melengkapi wawasan dan pengetahuan kita silakan kunjungi web beliau . Banyak topik - topik yang menarik yang diangkat dalam tulisan beliau tersebut. ada politik, sejarah, tauhid dan lain. dari yang serius sampai yang santai juga ada. Selamat mengkaji.
Share:

JANGAN MAU DIBOHONGI ISIS DAN HTI

JANGAN MAU DIBOHONGI ISIS DAN HTI Oleh Prof Nadirsyah Hosen
29 Jul 2017 1151 views 1 Comment
SURABAYA | duta.co –  Tidak semua orang memperhatikan Panji Rasulullah yang dikibarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) akhir-akhir ini. Tetapi tidak bagi Dr H Nadirsyah Hosen, LLM, MA (Hons), PhD,  alias Gus Nadir. Rois Syuriuah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand serta Dosen Senior Monash Law School ini memberikan catatan menarik tentang panji yang diklaim HTI sebagai bendera Nabi tersebut.
Seperti disampaikan Ketua HTI Kabupaten Trenggalek, dr Fahrul Ulum, bahwa, kegiatan yang digelar HTI sebenarnya hanyalah edukasi ketauhidan dengan mengingatkan sejarah keislaman di zaman Nabi Muhammad saw.
“Melalui kegiatan itu HTI melakukan kirab Panji Rasulullah, yakni Panji Al-Liwa’ yang berwarna putih dan Ar-Royah yang berwarna hitam. Dua panji ini selalu dibawa Rasulullah ke mana pun pergi sebagai simbol perjuangan dan syiar yang dilakukan kala itu,” kata Fahrul menjelaskan kepada antara melalui sambungan telepon.
Tentang konsep khilafah, HTI sifatnya memberikan tawaran. Logikanya sama seperti tawaran menggunakan listrik, berhemat dalam pemaikaiannya dan sebagainya. Artinya dalam dinamikanya tawaran itu bisa saja diterima atau ditolak, sehingga kami (HTI) mengedepankan dialog, katanya.
Nah, benarkah dua bendera Al-Liwa’ dan Ar-Rayah itu yang selalu dibawa Rasulullah? Rayah adalah bendera berukuran lebih kecil, yang diserahkan khalifah atau wakilnya kepada pemimpin perang, serta komandan-komandan pasukan Islam lainnya.
Rayah merupakan tanda yang menunjukkan bahwa orang yang membawanya adalah pemimpin perang. Liwa, (bendera negara) berwarna putih, sedangkan rayah (panji-panji perang) berwarna hitam. Mereka meyakini pemahaman itu melalui hadits riwayat Thabrani, Hakim, dan Ibnu Majah.
Dr H Nadirsyah Hosen, LLM, MA (Hons), PhD,  alias Gus Nadir punya catatan menarik. Menurutnya, umat Islam jangan mau dibohongi oleh ISIS dan HTI soal bendera ini. Keduanya, ISIS dan HTI sama-sama mengklaim bendera dan panji yang mereka miliki adalah sesuai dengan Liwa dan Rayah-nya Rasulullah.
“Kalau klaim mereka itu benar, kenapa bendera ISIS dan HTI berbeda design dan khat tulisan arabnya?” demikian catatan Gus Nadir sebagaimana yang sampai kepada duta.co Sabtu (1/4/2017).
Menurut dosen tetap di Fakultas hukum Universitas di Australia ini, secara umum hadits-hadits yang menjelaskan warna bendera Rasul dan isi tulisannya, itu tidak berkualitas alias tidak sahih. Riwayatnya pun berbeda-beda. Ada yang bilang hitam saja, ada yang bilang putih saja. Ada juga riwayat yang bilang hitam dan putih, bahkan ada yang kuning.
“Dalam sejarah Islam juga beda lagi. Ada yang bilang Dinasti Umayyah pakai bendera hijau, Dinasti Abbasiyah pakai warna hitam, dan pernah juga putih. Yang jelas dalam konteks bendera dan panji, Rasul menggunakan sewaktu perang hanya untuk membedakan pasukan Rasul dengan musuh. Bukan dipakai sebagai bendera negara,” jelasnya.
Jadi? Kalau ISIS dan HTI yang setiap saat mengibarkan Liwa dan Rayah, apakah mereka mau perang terus? Kok ke mana-mana mengibarkan bendera perang? “Kalau dianggap sebagai bendera negara khilafah, kita ini NKRI, sudah punya bendera Merah Putih. Masak ada negara dalam negara? Kalau itu terjadi, berarti makar!” tegasnya.
Lalu bagaimana status hadits soal bendera ini? Menurut Gus Nadir, hadits riwayat Thabrani dan Abu Syeikh yang bilang bendera Rasul hitam dan panjinya putih, itu dhaif. Riwayat Thabrani ini dhaif karena ada rawi yang dianggap pembohong yaitu Ahmad bin Risydin. Bahkan kata Imam Dzahabi, dia pemalsu hadits.
Lalu, riwayat Abu Syeikh dr Abu Hurairah itu juga dhaif, karena kata Imam Bukhari, rawi yang namanya Muhammad bin Abi Humaid, itu munkar. Kemudian riwayat Abu Syeikh dari Ibn Abbas haditsnya masuk kategori hasan, bukan sahih. Riwayat lain bendera Rasul yang warnanya hitam atau putih atau kuning atau merah, itu tidak ada tulisan apa-apa.
“Katakanlah ada tulisannya, maka tulisan khat jaman Rasul dulu beda dengan yang ada di bendera ISIS dan HTI. Jaman Rasul tulisan Alquran belum ada titik dan khatnya, masih pra Islam yaitu khat kufi. Makanya, meski mirip, bendera ISIS dan HTI itu beda khatnya. Kok bisa? Padahal sama-sama mengklaim bendera Islam? Itu karena rekaan mereka saja,” tandas Gus Nadir.

Jadi, Tidak ada contoh otentik dan sahih tentang bendera Rasul itu seperti apa. Itu rekaan orang-orang ISIS dan HTI berdasarkan hadits-hadits yang tidak sahih. “Intinya, jangan mau dibohongi sama bendera Islam-nya HTI dan ISIS. Perkara ini bukan masuk kategori syari’ah yang harus ditaati. Selesai,” pungkasnya. (mky)

Nadirsyah Hosen

Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School. Juga Pengasuh PonPes Ma'had Aly Raudhatul Muhibbin, Caringin Bogor pimpinan DR KH M Luqman Hakim.

LINK NYA ADA DISINI
Share:

04 October 2014

PENGURUS YAYASAN DARUL HIKMAH

Pemilihan pengurus yayasan Darul Hikmah 2014-2019 diselengarakan pada hari Jum'at, 26 September 2014 pukul 13.00 WIB bertempat di Aula SMP NU 01 Ma'arif Bumiayu Jl Subulussalam Kalilangkap. Terpilih sebagai  Ketua  adalah Ustadz Abdul Rouf.






Share:

13 July 2014

DOKUMENTASI AKTIFIS MASA MUDA NU

 Musran PR GP Ansor Kalilangkap






Pelantikan GP Ansor PAC Bumiayu 2010, 
dan Memperingati 40 Hari Wafat Gus Dur di Lapangan Asri Bumiayu, 15 Februari 2010






Kegiatan Sekitar tahun 1999 an







KH. Zaini Nadzif Tegal















Mengabdi di Madrasah Diniyah, 1999








Share:

Pengunjung

Asal Negara

Flag Counter

Blog Archive